Showing posts with label travel. Show all posts
Showing posts with label travel. Show all posts

Wednesday, June 20, 2012

Totally OUT-ing

Bagi tim Sales and Marketing (Sales, Revenue-Reservation dan Catering-Banquet Sales) di Le Meridien Jakarta, ada yg spesial akhir pekan lalu: OUTING.

Minggu lalu, tim Sales and Marketing hotel bintang 5 yang berlokasi di Jalan Sudirman tersebut, pergi berlibur akhir pekan (weekend break) ke Bandung, tepatnya ke daerah Parongpong, sekitar Lembang, wilayah dataran tinggi di Bandung. Tim ini menyewa sebuah villa 4-kamar yang cukup besar yang bisa menampung (idealnya) hingga belasan orang.

Peserta outing berfoto bersama di Villa Santorini Bandung di hari kedua

Peserta outing berfoto bersama di ruang tamu Villa Santorini Bandung pada malam pertama


Villa ini berada dalam kawasan villa bernama Kompleks Villa Taman Bunga. Banyak villa berdiri di kawasan (sebenarnya lebih tepat disebut kompleks atau desa) villa ini. Mungkin jumlahnya mencapai puluhan. Tipenya pun bervariasi, mulai dari yang kecil berukuran 1-bedroom hingga yang besar yang memiliki 6 bedroom dan lebih. Mulai dari yang cocok untuk 1 keluarga kecil (ayah-ibu dan anak) hingga yang bisa menampung 40an orang.

Menggunakan bis kapasitas 25 orang, tim tersebut semestinya berangkat pukul 1 siang, tapi sayangnya, gara-gara Hardi Hardiansyah, salah satu Senior Sales Manager harus terlibat kesibukan dengan beberapa pejabat teras di Ministry of Marine and Fishery the Republic of Indonesia. Hardi harus bolak balik Jl. Sudirman - Gambir demi memastikan piece of business yang mereka peroleh dapat berjalan sukses. Walhasil, rombongan bus itu berangkat pukul 3 sore.

Sepanjang perjalanan peserta outing menikmati permainan yang telah disiapkan oleh Vera Maidangkay (Senior Sales Manager) dan Isrin Vergasari (Online Manager), diantaranya ketangkasan mentransfer air mineral dalam gelas, berbisik kalimat, quiz seputar Starwood knowledge, dan tebak-tebakan lucu.

Selain itu, peserta juga dihibur oleh pertunjukan karaoke. Sebagaimana telah diprediksi, atraksi hiburan ini didominasi oleh Vera Maidangkay, Fitriana Wulandari (Director of Sales) dan Fajri D Roesman (Director of Sales and Marketing). "Yah, karena equipment Karaoke di bus ini tidak mampu men-support tingkat kualitas suara saya, jadi saya putuskan tidak ikut bernyanyi," ujar Yulia, salah satu anggota tim Catering Sales yang dikenal memiliki suara merdu itu.

Rima (kiri) dan Fajri Roesman (kanan) mendominasi atraksi Karaoke on the Bus

Perjalanan berjalan lancar meski beberapa kali terjebak kemacetan terutama di sekitar Kota Bandung. Jalanan menuju bagian dataran tinggi wilayah Bandung seringkali tersendat mengingat ruas jalan yang sempit dan padatnya arus lalu lintas. Melihat hal ini, Tyo, Sales Administrator Le Meridien Jakarta, berkomentar kritis "Persis seperti di Bogor, pembangunan fisik disini semrawut." Saya setuju dengan Tyo, mengingat peruntukan lahan di sepanjang jalur menuju kawasan villa tersebut cenderung tak tertata dengan baik (kalau tidak mau menyebutnya "semrawut"). Tidak jelas, mana yang wilayah komersial, perdagangan, perkantoran dan mana yang residensial.

Memasuki kawasan Villa Taman Bunga, rombongan ini melewati gerbang utama yang menjadi satu-satunya access gate ke kompleks itu. Setelah berputar melingkari jalanan kawasan villa, bus kami akhirnya parkir di depan Villa Air. Kami tidak menyewa villa tersebut, tetapi Villa Santorini, terletak persis berdampingan dengan Villa Roberni. Karena bus yang ditumpangi tidak bisa parkir tepat di depan Villa Santorini, akhirnya kami turun di depan Villa Air dan memarkir di jalan aspal utama kawasan villa tersebut. Jarak jalan aspal menuju villa Santorini tidak jauh, tapi karena jalan selebar mobil keluarga itu cukup menanjak, jadi cukup membuat nafas tersengal terlebih dengan membawa barang-barang yang cukup banyak.

Family room Villa Santorini, lantai 2

Villa Santorini lumayan besar. Terdiri dari 3 lantai, memiliki taman dan area bbq serta balcony di tiap lantainya. Selain dilengkapi dapur, kamar kecil dan sebuah kamar tidur, lantai pertama memiliki living room yang luas dan terhubung dengan area bbq, berupa taman dengan rumput yang tertata apik dan suasana yang rindang. Disinilah tempat Hasnat (Catering Sales Manager) meng-entertain para hotel driver pimpinan Didik dengan jagung bakar dan live acoustic performance by Jamal & Sutrisno. Sayangya, karena tidak terbiasa dengan hawa dingin di Bandung, mereka hanya mampu bertahan selama satu jam.

Living room Villa Santorini, lantai 1

Lantai 2 terdapat tiga kamar tidur, dua kamar mandi dan sebuah ruang keluarga yang terhubung dengan balkoni. Di ruang keluarga inilah Didik, Hendro, Sutrisno, Jamal, Tyo, dan Emi, menikmati tontonan pertandingan Bola Euro Cup dilanjutkan dengan permainan kartu berhadiah, lagi-lagi arranged by Hasnat.

Lantai 3 dengan balkoni yang luas

Lantai 3 terdapat ruang duduk indoor dan sebuah ruang outdoor berupa balkoni dengan pemandangan yang superb. Sepanjang mata memandang, hamparan kerlip kota Bandung jadi suguhan yang cukup romantis. Karena saking dinginnya suhu di luar, tak banyak orang bertahan menikmati area ini. Mereka lebih memilih nonton bola, main kartu, games dan karaoke sampai pagi di area living room.


Hasnat (kiri) masih memimpin sebagai pemenang permainan kartu.  

Dea (kiri) hanya bisa melihat Vera, Isrin dan Hardi bermain kartu

Dinner at the Villa courtesy by Fitriana Wulandari.
Siapa sangka Director of Sales (DOS) Fitriana Wulandari punya talent di usaha tata boga? Terbukti, selain jago mempimpin tim penjualan, Ibu dua anak ini ternyata juga hebat mempimpin tim kitchen. Dengan memberdayakan Ira (Director of Revenue), Rima (Director of Catering), Dea, Nana, Sisca, Yulia dan Ella (Reservation Manager), Fitriana mampu menyajikan hidangan dinner nan lezat bagi setidaknya 25 orang yang sudah kelaparan. Menu yang dipilih; ayam goreng kremes, lalapan sayur segar, sup daging, sambal terasi, sambal rebon, krupuk persembahan Rima, tak hanya mampu membungkam rasa lapar peserta outing, tapi juga memicu energi mereka untuk totalitas alias habis-habisan pada acara games dan permainan malam itu.

Tim Juru Masak pimpinan Fitriana Wulandari (baju merah paling kiri)

Salah satu suasana makan malam di Villa Santorini

Energizing Games: We truly had fun..!
Motto "work hard play harder" tampaknya berlaku bagi tim Sales & Marketing Le Meridien Jakarta. Dikomandoi oleh Isrin Vergasari dan Vera Maidangkay, games dan acara permainan menjadi ruh pada program outing tahun ini. "Gak bakalan seru dah kalo kagak ada games heboh kayak gini," ujar Nana, panggilan akrab Hasanah Hussein, Secretary to DOSM yang juga menjadi Bendahara Umum panitia Outing itu.

Vera (kiri) dan Isrin, arsitek games outing tahun ini. Ditangan mereka peserta dibuat jungkir balik...

I see, please understand me... and you stand under me...

Awas kumis nempel...!

Memang, games yang dirangkai begitu seru, atraktif dan menantang. Peserta sangat menikmati, antusias dan aktif di tiap permainan. Untuk memulai games, Isrin membagi peserta menjadi 4 kelompok, yakni Chibi-Chibi (padahal hampir semua anggota berpipi chubby) pimpinan Duo Yulia-Dea, Breaky Dancers pimpinan Fajri Roesman, Iwak Peyek yang dikomandoi Hardi dan Aserehe yang diketuai Ella. Sebagai pembuka, lomba yel-yel diperagakan oleh semua kelompok, dan ternyata, kreasi olah vokal+koreografi Hardi dengan tema "Iwak Meyek"nya mampu mengocok perut peserta sehingga tim Hardi dan tim layak keluar sebagai pemenang atraksi Yel-yel.

Tim Chubby-chubby (bukan chibi-chibi)

Games pertama adalah mentransfer karet dengan tusuk gigi dari rahang ke rahang. Karena anggota tim Iwak Peyek sudah terbiasa makan sate kambing, tim ini keluar jadi pemenang. Games kedua adalah memindahkan biji kacang kedelai dengan sumpit. Permainan ini berjalan lebih kompetitif terutama antara grup Aserehe pimpinan Ella dengan kelompok Chibi-chibi. Dan, karena Ella and the gank sudah terbiasa nongkrong di warung Mie Ayam, merekalah jadi juara.

Tim Breaky dancers

Permainan yang lebih sulit dilanjutkan dengan game "Cup Bowling". Peserta musti menyentil atau menjepret karet kearah tumpukan gelas yang berjarak sekitar 130-an cm. Tim yang berhasil merobohkan gelas plastik paling banyak berhak memboyong hadiah. Tidak disangka, tim Aserehe keluar jadi jawara, maklumlah karena mereka terbiasa beli nasi bungkus dengan kode karet merah tanda sambal pedas.

Ayo tiup bolanya...

Sumpitlah daku kau kutimpuk...!

Serunya permainan makin memuncak dengan tebak kata. Peserta harus menebak gambar yang dibuat masing-masing leader. Kosa kata atau frase dibuat lucu, misalnya kambing congek, perawan desa, tabrak lari, sup kepala kambing, dan lain sebagainya. Dibutuhkan skill mumpuni dalam hal sketsa atau gambar tangan, agar peserta dapat mudah menebak maksud dari si penggambar. Waktu yng diberikan pun sangat terbatas, cuma satu menit sehingga mayoritas anggota tim kesusahan menebak setiap gambar yang dibuat. Meski demikian, grup Chibi-chibi menjadi pemenang setelah bersaing ketat dengan tim Breaky Dancers.

Emi mencoba merobohkan tumpukan gelas plastik itu. Sayangnya tidak satupun yang tumbang.

Plastic Cup Bowling designed by Isrin and Vera

Suasana makin heboh dengan pertunjukan game tebak-gaya. Tanpa bersuara sepatah katapun, leader masing-masing tim musti memperagakan (dengan body language) maksud dari frase atau kata dan peserta harus tepat menebaknya. Meski diberi waktu hingga 5 menit, tapi karena pilihan kata lumayan sulit dan super lucu, plus gaya yang diperagakan terkadang nggak nyambung, maka persertapun kewalahan menyelesaikan tebakan masing-masing peraga. Kata-kata seperti "malam pertama", "sambel bajag", "tetek kendor" (maaf), dan "ketek berkuah" (maaf) cukup memusingkan peserta. Pada game ini, Breaky Dancer bersaing ketat dengan Chibi-chibi dengan skor berimbang, hingga harus dilakukan ronde kedua. Sayangnya, tim Breaky Dancer akhirnya terdepak kandas setelah tim tersebut tak mampu menebak gerakan Fajri Roesman yang bermaksud menyebut frase "Ketek Berkuah". "Padahal saya sudah bersorak ketek basah, tapi ternyata yang dimaksud adalah kata berkuah," sesal salah satu penebak.




Permainan Kartu, Nonton Bola dan Karaoke.
Setelah kelelahan dan kehabisan suara dalam ajang tebak-gambar-kata dan tebak-gaya, peserta outing dijamu dengan pembagian door prize dan tukar kado. Hadiah diantaranya binocular, tumbler, tupperware, payung, voucher belanja, alat olahraga body slimmer, dan masih banyak lagi!

Usai pembagian doorprize, saatnya acara bebas. Peserta outing bebas memilih acara yang mereka suka, ada yang main gitar, ada yang main kartu "berhadiah", ada yang nonton piala Eropa dan ada pula yang ikut lomba Karaoke yang disiapkan Fajri Roesman, Director of Sales and Marketing (DOSM).

Saya sendiri memilih nonton bola sambil tiduran dan sesekali melirik kehebohan grup sebelah yang riuh mengatur strategi permainan kartu. Akhirnya saya terlelap dan di penghujung tidur sayup-sayup saya dengar canda tawa Isrin dan Vera di lantai satu yang masih menikmati karaoke. Ya ampuuun.., ternyata sudah pukul 4.30 pagi dan mereka baru saja selesai permainan. Luar biasa..!

Hari Kedua: Pagi yang Cerah nan Riang
Saya beranjak dari tempat tidur dan lekas mengkaryakan Nikon kesayangan. Targetnya adalah pemandangan kompleks Villa dari lantai 3, dilanjut dengan keliling perkampungan dengan memotret berbagai tipe Villa berikut lansekap tamannya. Saya sempat melihat Pak Fajri yang sudah mengenakan pakaian dingin dan jalan-jalan mengelilingi perkampungan Villa yang asri itu. Betapa sejuk udara pagi itu, bagaikan menghirup menthol.

Puas memotret suasana perkampungan Villa, saya kembali ke Vila Santorini dan mulai mengajak teman-teman olahraga. Tak banyak yang ikut fitness, maklumlah sebagian besar mereka masih terlelap karena baru saja memulai tidur.

Diatas balcony lantai 3 menikmati udara segar dan pemandangan alam desa 

Mereka yang mampu bangun pagi dan berkreasi
Sementara Nana, Ella dan tim reservasinya sibuk aerobik, kepala juru masak Fitriana juga tak kalah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Menu Nasi Goreng, Egg Omelet, Perkedel Jagung dan Sambal Goreng Rebon jadi suguhan menggiurkan. Begitu lezatnya menu tersebut tak mengherankan Isrin Vergasari yang baru saja bangun tidur sudah menenteng piring. Menurut sumber yang dipercaya, ia bahkan nambah dua kali piring.

Fitriana (berbaju biru) sambil memimpin para juru masak sembari teteup eksis...

Isrin Vergasari sedang menikmati sarapan pagi

Tepat pukul 11 pagi, rombongan meninggalkan Villa menuju pusat Kota Bandung, tepatnya singgah ke Yogurt Cisangkuy untuk makan siang dan snack time! Letaknya di Jl Cisangkuy, dekat lapangan Gazebo, dekat Gedung Sate, dan dekat Pos Indonesia.

Sesuai namanya, rumah makan sekaligus tempat nongkrong ini menyediakan berbagai macam menu olahan yogurt dengan variasi rasa buah. Misalnya yogurt lyche dengan juz, strawberry yogurt, yogurt vanila, yogurt chocolate dan sebagianya. Selain itu, main course juga bisa dipesan di warung sederhana ini, misalnya bakso ceker, batagor dan siomay. Terdapat pula menu kue seperti kue laba-laba, kue pancong, cheese stick, kue keju, dsb. "Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah," celetuk Isrin yang terlihat beromansa dengan memori semasa kuliah di STP Bandung. Tempatnya rindang, terkesan sejuk meski ramai pengunjung. Tamu musti order dan bayar dulu, kemudian menu diantar ke meja. Tepat di depan Yogurt Cisangkuy ada pedagang menjual Sate, Kue Serabi dan Kue Pukis. Tak jauh dari area itu, banyak orang menawarkan jasa Horse Sightseeing. Saya tidak sempat menanyakan harga naik kuda lantaran perhatian saya tersita pada mahalnya parkir bus yang mencapai 25ribu perak, dan itu resmi disertai receipt yang dicetak rapi.

Keceriaan di Yogurt Cisangkuy

Selain parkir yang mahal, hal yang minus dari tempat ini adalah matinya air kran untuk wudlu di Musholla. Untuk itu perserta outing terpaksa mencari tempat sholat terdekat.

Selesai bercanda ria di Cisangkuy, rombongan beranjak ke Primarasa guna belanja oleh-oleh makanan atau jajanan khas Bandung seperti kue brownies, klapertart, kripik singkong, kue bolu, kue pie dan lain sebagainya.

Suasana di dalam PrimaRasa

Perjalanan menuju Primarasa cukup berkesan setidaknya buat saya yang buta area Bandung. Ternyata kota ini banyak memiliki tempat wisata kuliner, disamping juga terkenal sebagai kota Factory Outlet (FO). Rombongan outing melintasi Jalan Riau yang punya banyak FO misalnya Aamani Muslim Fashion Store, Riau Junction, dsb. Bus juga melewati Jl. Merdeka yang banyak terdapat gedung bergaya arsitektur jaman Belanda.

Salah satu Factory Outlet di Bandung

Selepas belanja di Primarasa, rombongan beranjak ke Jl. Martadinata. Bus terpaksa parkir di gedung PUSSIMPUR setelah supir lelah berputar-putar mencari tempat parkir umum yang ideal. Peserta outing bergegas menuju Factory Outlets yang jumlahnya lumayan banyak dan terdapat menyebar hampir di setiap ruas jalan.

Menggunakan teknik negotiation skill, Hardi sedang asyik menawar harga Sablak (produk Maicih)

Saya sendiri heran kenapa banyak warga Jakarta datang ke daerah ini untuk belanja di Factory Outlet, padahal harga pakaian di semua FO di Bandung rata-rata sama mahalnya dengan apa yang dijual di Jakarta. Saya melihat tidak banyak peserta outing yang menenteng barang belanjaan, jadi mungkin mayoritas mereka juga tidak mempraktikkan motto "shop till you drop" pada kunjungan kali ini. Ya, harga tetap saja mahal.

Dinner di Nasi Bancakan
Pukul 4 sore rombongan siap meluncur ke "Nasi Bancakan" untuk makan malam. Ternyata jarak antara pusat FO ke warung Nasi Bancakan cukup dekat sehingga mereka sampai lebih awal yang semestinya dijadwalkan pukul 7 malam. Untungnya, menurut Suswanto, salah satu anggota tim manajemen sudah mengantisipasi dengan menyiapkan makanan lebih awal.

Warung Makan Nasi Bancakan tampak dari depan

Hidangan yang dipesan adalah menu prasmanan, diantaranya Sangu Daun/Liwet, Gepuk, Tumis Toge Tahu, Pepes Jamur, Perkedel Jagung, Bala-bala, Peda Bakar, Sayur Asem, Sambel + Lalapan dan air mineral. Harganya sangat terjangkau, cuma Rp.33.500,- per orang dengan minimum booking 25 orang. Untuk minuman, panitia menawarkan tiap peserta minuman tambahan seperti Es Cincau, Juz Buah, Es Kelapa Muda dan minuman traditional khas Sunda lainnya.

Para petualang kuliner 

Menu di Nasi Bancakan

Suasana warung Nasi Bancakan cukup bersahaja. Pengunjung bisa memilih tempat duduk biasa atau lesehan dengan tikar daun pandan. Peralatan makan juga dibuat sederhana dengan piring dan gelas kaleng sehingga pengunjung diajak bernostalgia ke jamuan makan bersama (atau disebut bancakan) ala tempoe doeloe. Overall, mayoritas peserta outing puas dengan acara dinner di Nasi Bancakan.

Usai berbancakan ria, waktunya bagi rombongan kembali ke Jakarta. Lagi-lagi vcd karaoke menjadi teman setia rombongan itu. Fajri Roesman menyempatkan beli VCD karaoke dengan lagu-lagu jadul yang dibawakan Pance Fondaag. Walhasil, peserta terbawa ke memori nostalgia jaman ABG (Angkatan Babe Gue). Tapi jangan salah, they enjoyed the songs and had great fun.

Demikian cerita di balik perjalanan Outing ke Bandung. Cukup mengesankan dan peserta berharap program Outing tahun depan bisa terlaksana lebih meriah.

Bila Anda punya ide gila untuk outing tahun depan, silahkan post di kolom comment. Terima Kasih.

 Peserta outing berpose di depan Villa Santorini

Makin tidak terkendali di depan kamera

Friday, June 8, 2012

Abacus, Raja Kamar team up behind hotel wholesale product

The battle for hotel content continues. Abacus International, in partnership with Indonesia-based Raja Kamar International, is rolling out a hotel wholesaler product, RoomDeal, which will give its agents access to the best nett rates firstly in Indonesia and then more markets as the product is rolled out.

Citing the growing demand for such content across the region, Abacus’ vice president of marketing, Brett Henry (pictured below) said, “Raja Kamar is a key player in the hotel wholesale industry in Indonesia, which is the first market in which Abacus RoomDeal has been launched.

One of villas in Bali

“With one of the widest networks in terms of major hotel wholesaler content, they were the natural choice in creating Abacus RoomDeal.”

RKI is the company behind the newly-rebranded site of rajakamar.com, an online hotel play offering hotels in Indonesia for domestic travellers. It is backed by the three major travel families of Indonesia – Panorama, Smailing and Dwidaya.

As an investor in Abacus RoomDeal, RKI will be powering the product with its content, technology and customer service. Scott Blume, CEO of RKI, said that this partnership was indicative of “Indonesians’ interest to not only invest domestically but also within the region”.

According to Henry, what makes Abacus RoomDeal different is that “agents receive access to the best nett rates provided by hotel wholesalers, allowing them to determine their own mark-ups, giving them more flexibility and control in the rates they provide to their customers.
 
“We have carefully selected the best local market wholesalers and now expose these rates to agents to help them drive better value for their customers as well as better profits for their agencies.

“Abacus RoomDeal also features full PNR integration with cancellation and refund capabilities and can be fully incorporated with mid-back office systems, making it simpler for agents to service their customers efficiently.

“All Abacus RoomDeal bookings can be accessed via Abacus VirtuallyThere and Tripcase, allowing travellers to manage their trips seamlessly in a single itinerary while on the go.”

Asked how this product would compare with Travelport’s Rooms And More, he said, “With Abacus RoomDeal, agents can expect better content, better rates, better UI/UX and more opportunities for mark-up margins.”

He said this product would supplement Abacus Hotel which will do over two million room nights this year. “While Abacus Hotel is a published, largely post paid solution targeted primarily at corporate travellers that gives agents more flexibility, Abacus RoomDeal targets mainly leisure and unmanaged corporate travellers.”

While he declined to disclose figures on hotel revenues as a component of overall business, Henry said that hotels were a “material component” and was growing at double digit rates year over year.

GDSs have traditionally struggled with the hotel side of the business, being a predominantly air-led model. But with the market changing, each GDS is making a pitch for the hotel market.

Asked if he had seen more instances of people booking hotel first and then finding a flight (low cost or otherwise) around that, Henry said, “We haven't seen this trend at all in the corporate space and only subtly in the leisure space. The air lead model remains dominant.

“We already have a large hotel business and consider getting hotel right a priority. The addition of a hotel wholesale product is a response to our agency customers need to have non-air products that help them drive higher revenue and profits while offering their leisure and unmanaged business customers the best products at the best price.”

Blume said that for RKI, this was a natural evolution of its B2B and B2C business. “With 88,000 screens out there and even if 25% of them use it to make one booking each, it’s good business.”

He said the product had been well accepted by agents in Indonesia. “They want PNR integration. They are sick of booking and waiting for commissions to come in, and it costs them money to bank the cheques. This solves that problem.”

Source:
WebInTravel

Monday, January 23, 2012

Escape to Agrowisata Tambi

Do you feel boring and want to escape from the hustle bustle of city life? Perhaps, you need to take some days off and go to a natural recreation site.

If you dream of visiting a place that offers ecotourism with greenery, freshly breezy air, country side atmosphere, and the feel of mountains, Agrowisata Tambi in Wonosobo, central Java could be a good choice. This place of interest offers varied activities that promote health as well as educational games.

Nestled in the highland of Dieng, the Agrowisata Tambi was initially a tea-farm grown and managed by the Dutch during the colonialism era. The tea was one of the premium Indonesian products exported to European countries. During the Dutch governance, the farmer and workers of the tea-farm were dominated by Indian, which were mostly Tambi ethnic. It is said, this is the reason why people nowadays call it as Tambi.

Today, the Tambi tea-farm which is managed by PT. Tambi, producing not only high quality tea leaves, but also becomes one of the predominant tourist attractions in Wonosobo. The tea cultivation is grown in the 800 hectare is premium black tea.

Tambi is located at Desa Tambi, Kecamatan (sub-district of) Kejajar, Kabupaten (region of) Wonosobo. It is approximately 16 kilometers southern side of Wonosobo city. By car, it takes only 30 minutes to reach the tourist site. Besides using personal or rental car, the agro-tourism site can be access by public bus with the route of Wonosobo-Dieng Batur. You can stop at the intersection of Desa Rejosari, Wonosobo and take ojek ride (motor-bike) to the location.

The entrance ticket is only Rp.20.000,- (approx USD2), and you can freely take walk to enjoy the panoramic view of tea-farm. The tourist site offers three routes of tea-walk to choose; the short route (1 to 2 kilometers), medium route (2 to 3 kilometers) dan long-haul route (3 to 9 kilometers). Beside Tea-Walk, you can also visit tea factory where you can observe directly the process of producing tea leaves.

The Agrowista Tambi is highlands with 1.200 to 2000 above sea level and is located in slopes and hills of the western side of Sindoro Mountain. It has breezy and fresh air ranging from 15 to 24 degree celsius.

Beside tea farm, tea-walk and tea-factory, the place has decent accommodation, fishing pool, tennis court and children playground. What do you wait for? Get prepared and visit Tambi.

Thursday, September 15, 2011

Perang Spanduk

Fenomena Iklan Banner Pinggir Jalan

Oleh: Mohammad Iqbal

Meski melelahkan, mudik dengan mengendarai kendaraan sendiri punya kelebihan tersendiri. Salah satunya, kami bisa lebih santai selama perjalanan. Berhenti dan melanjutkan perjalanan kapan saja kita mau tanpa terikat jadwal yang ketat. Selain itu, kita bisa bebas bicara apa saja tentang apa yang kita temui di sepanjang perjalanan mudik.


 Ketika melewati jalur mudik selatan, tepatnya di sepanjang jalan utama daerah Wangon, Rawalo, Buntu, Sumpiuh, hingga Tambak dan Gombong, kami melihat fenomena yang, sebut saja, sebagai ”Perang Spanduk”. 

Nah, apa itu perang sepanduk?

Biasanya, pada musim kampanye partai politik (parpol) dan kampanye calon legislatif (caleg), ruas pinggir jalanan baik di perkotaan maupun pedesaan dipenuhi spanduk, umbul-umbul, baliho atau bentuk-bentuk promotional material lainnya dari hampir semua parpol atau caleg yang akan berkompatisi. Nah, ini mirip dengan itu. Bedanya yang ini perang spanduknya dilakukan oleh pengelola restoran yang menyasar para pemudik atau travellers sebagai target pasarnya.

Karena yang ditarget adalah para pemudik dan orang yang melakukan perjalanan jauh, yang melintasi jalanan di jalur mudik, maka para pengelola restoran itu berlomba-lomba mengkomunikasikan eksistensi, produk dan pelayanan usaha meraka dengan cara memasang spanduk atau banner di sekitar restoran mereka dan di sepanjang jalan yang dilalui para pemudik dan travellers itu.


Dulu, sekitar setahun lalu, cuma ada satu rumah makan yang memasang banner pinggir jalan, yakni PringSewu. Tapi kini, sudah banyak restoran, rumah makan, bahkan warung yang menerapkan cara serupa. Sebut saja R.M. Musim Sari, Taman Pancuran, R.M. Jawa Bali, Hotel & R.M. Istana, R.M. Padang Sabananyo, dan Abah nDut. Yang terakhir adalah pesaing utama PringSewu, terutama dalam hal keberhasilan menarik perhatian audience.

Akan tetapi, menurut saya, PringSewu yang paling berhasil. Ini setidaknya berlaku buat saya. Restoran yang berlokasi di Jl. Raya Buntu – Sumpiuh, Km. 06 Kemrajen – Banyumas ini sukses meraih perhatian para travellers dengan memasang ratusan spanduk ukuran kecil-menengah di sepanjang jalan dari dan menuju daerah Buntu, Sumpiuh. Tentunya, selain makanan yang enak, suasana yang nyaman, kebersihan yang terjamin, pelayanan yang ramah, sukses dan ramainya PringSewu juga dikarenakan keberhasilannya menarik perhatian para pengunjung lewat pemasangan spanduk.


 Yang menarik, PringSewu tidak hanya mengobral janji dengan melulu menonjolkan feature produk dan jasa meraka secara bombastis. PringSewu juga memberikan informasi yang dibutuhkan para pengguna jalan. Misalnya seruan ”Gunakan Sabuk Pengaman”, ”Utamakan Keselamatan”, ”Hati-hati di Jalan”, ”Ngantuk...! Istirahat!”, ”Awas Daging Gonggongan”, ”Peta Perjalanan”, dan lain sebagainya. Informasi yang beriorientasi pada produk sendiri juga dibuat menjadi sesuatu yang seakan-akan dibutuhkan oleh konsumen. Misalnya; ”Ultah Dirayakan”, ”Melayani Rombongan Wisata”, ”Gratis Alat Sulap”, ”Magic Box”, ”Free Hotspot”, ”Halal”, ”Arena Bermain Anak”, dan ”Restoran Nuansa Sawah”.

Disini nampak PringSewu paham betul akan Driving Principles of Selling, yang salah satunya adalah “Focus to the Customer” (fokus pada pelanggan). Artinya, PringSewu paham betul bahwa ia harus berorientasi pada kebutuhan dan keinginan tamu, ketimbang terjebak pada nafsu yang meluap-luap untuk menjejali konsumen dengan informasi tentang produk yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan apa yang dibutuhkan konsumen.


Sukses lain dari PringSewu juga dikarenakan pemahaman yang benar akan branding, communications, advertising dan konsitensinya menyampaikan pesan-pesan perusahaan. Ada puluhan hingga ratusan pesaing PringSewu yang memasang spanduk di pinggir jalan. Tapi kenapa hanya PringSewu yang paling menarik perhatian? Jawabnya terletak pada prinsip eye-catching, simple; easy to understand and recall, consistency dan number of impression (atau frequency of appearance).

Eye-Catching. Warna dan tipologi yang tertuang di spanduk PringSewu sangat menarik perhatian mata. Didominasi warna merah dan kuning. Spanduk dengan dominasi warna ini menjadi begitu kontras bila dipasang di pohon yang memiliki backgorund (dahan, ranting) berwarna hijau. Bandingkan dengan spanduk milik Abah nDut yang memiliki warna dingan Hijau dan Biru. Audience pembaca spanduk ini adalah pengguna kendaraan yang melaju dengan kecepatan diatas 40km per jam. Mungkin orang tidak sempat membaca. Oleh karena itu, penentuan warna menjadi faktor penentu agar spanduk bisa mudah sekaligus diingat dalam tempo yang singkat.


Simple; easy to understand and recall. Prinsip kesederhanaan juga diterapkan pada komunikasi PringSewu. Karena copywriting yang sifanya simple, pendek, jelas, dan to-the-point, maka pesan yang disampaikan jadi lebih mudah diterima dan sekaligus mudah diingat. Contohnya adalah “Telor Asin”, “Gurameh Bakar”, “Sop Buntut”, “Paket Wisata Rp. 8.500,-” “Jus Stoberi”. Tidak perlu menuliskan kata-kata “Nikmati menu ini dan itu” atau “Rasakan kelezatan menu favorite ini dan itu” atau kalimat apapun yang panjang lebar. Dengan hanya menyebut menu terkenal sesingkat mungkin, auidience diharapkan sudah bisa membayangkan kelezatannya.

Consistency. Konsistensi spanduk PringSewu dalam menyampaikan pesan pemasaran tercermin bukan hanya pada ketaatan menjaga logo serta aplikasi visualisasi di media spanduk. Proposi, warna, layout, typology dan copywriting dari message yang ingin disampaikan juga secara apik tertata di media spanduk. Setiap melihat spanduk PringSewu, pasti ada copywriting ditulis di bagian atas, jenis restoran tertulis di tengah dan logo serta nama restoran di bagian bawah. Warna dan typology-pun konsisten.


Impression.  Seperti pada kebanyakan upaya PR (Public Relations) dan Marcom (Marketing Communications) pada umumnya, jumlah kemunculan identitas, produk dan pesan perusahaan menjadi tolok ukur keberhasilan suatu proses kampanye pemasaran. Popularitas adalah tujuan akhirnya, agar ketika melihat pesan itu, audience mengalami proses AIDA (Awareness, Interest, Desire, Action). Semakin sering iklan ditayangkan, semakin banyak berita dimuat, semakin banyak banner dipasang, semakin sering banyak informasi disebar memalui social media, semakin tinggi pula probability suatu pesan dicerna calon konsumen. Demikain pula dengan PringSewu, yang menurut perhitungan saya, memasang setidaknya 200 spanduk di sepanjang 100 kilometer sebelum dan sesudah lokasi restoran itu berdiri. Hebatnya, 70 kilometer sebelum melewati PringSewu, pengguna jalan sudah disapa dengan spanduk perkenalan restoran taman tersebut.


Hand-to-hand collateral distribution. Satu hal positif yang membedakan PringSewu dari pesaingnya, adalah kecekatannya menjemput bola dalam hal distribusi media promosi. Pengelola resto itu sengaja menugaskan seorang kurir untuk mendistribusikan flyer berukuran 21cm x 10cm ke setiap pengendara mobil yang berhenti di perempatan lampu merah dekat restoran itu. Memang, cara ini bukanlah modus baru, akan tetapi kita perlu belajar darinya, bagaimana sebuah usaha kecil bisa berkembang baik dengan pertama-tama meletakkan pemahaman akan pentingnya komunikasi pemasaran (the significance of marketing communications) sebagai pondasi utama membangun kepercayaan sekaligus loyalitas pasar.

Penulis adalah praktisi perhotelan dan pariwisata.