Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Perusahaan Yang Baik dan Karyawan Yang Baik

Oleh: Dadang Kadarusman
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Apa kabar kantor Anda? Yaaa, biasa aja sih ya. Tidak ada yang istimewa. Kan segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Setiap hari, ya begitu itulah kantor kita. Sekalipun begitu, coba sesekali Anda deskripsikan keadaan kantor lebih dari sekedar ‘biasa aja sih’. Soalnya, bisa jadi ada sesuatu yang kurang pas disana. Hanya saja kita selama ini tidak terlampau mempedulikannya. Atau, mungkin ada hal-hal yang bisa kita perbaiki. Tapi, karena kita menganggapnya lumrah ya sudah deh; dibiarkan begitu saja. Emangnya kenapa kalau kita biarkan? Soalnya, kantor merupakan tempat yang paling lama ‘menampung’ kita. Bukan soal bisa bosan dengan keadaan begitu terus. Tapi, suasana kantor yang buruk, akan berbahya juga bagi kita. Justru kitalah yang rugi, jika tidak peduli kepada kondisi di kantor kita. Kalau ada hal yang buruk, mesti kita perbaiki. Emangnya kalau kita cuekkin aja kenapa? Yang penting kan kerjaan gue beres.
 
Lelaki mungil kami tengah mempersiapkan materi presentasinya di sekolah. Dan katanya, mesti di print warna. Sebenarnya kami punya printer warna. Tapi sudah lama tidak digunakan. Selain mungkin tintanya sudah mengering, dicari-cari juga tidak berhasil kami temukan keberadaannya. Biasalah, kalau sedang tidak butuh; kita gemar mengabaikan sesuatu. Kita baru pusing mencarinya saat membutuhkannya. Setelah usaha menemukan printer warna itu gagal, maka pilihan paling mudah berikutnya adalah mencetak file itu di tempat fotokopian yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami. Ada layanan cetak warna disana. Jadi, mestinya tidak ada masalah. Hanya dalam beberapa menit saja, semuanya sudah selesai.
 
Masalah sebenarnya baru ketahuan ketika saya kembali bekerja. Setiap kali akan melakukan training, saya berupaya membawa salinan file presentasi dalam flash disc sebagai back-up. Untuk sekedar berjaga-jaga saja kalau-kalau terjadi sesuatu dengan laptop saya. Kan tidak lucu kalau alat bantu audio-visual yang sudah disiapkan ternyata tidak bisa digunakan dalam training itu. Maka saya pun bersiap meng-copy file itu ke flash disc. Niat itu urung karena, sekarang dilayar laptop saya muncul dialog box yang memberikan  peringatan bahwa fash disc saya terkena virus. Tidak usah merunut lagi dimana virus itu didapat. Tempat fotokpian yang menyediakan jasa print warna itu. Dimana lagi kan?
 
Flash disk itu, jarang sekali digunakan dikomputer lain selain milik kami di rumah yang sudah terjamin kebersihannya. Tidak pernah terinfeksi virus apapun selama ini. Meskipun sudah ratusan kali bolak balik digunakan. Tapi hanya perlu satu kali berinteraksi dengan computer bervirus di fotokopian itu, dan terinfeksilah dia. Kelihatannya sih, semudah itu jugalah lingkungan yang buruk membuat diri kita juga menjadi buruk. Lingkungan kerja yang buruk, bisa membuat diri kita berubah menjadi pribadi yang buruk loh. Beneran.
 
Tidak perlu bolak balik ke ruangan yang penuh dengan asap untuk menjadikan tubuh kita berbau asap, bukan? Tidak perlu berkali-kali masuk ke ruangan berdebu, untuk membuat tubuh kita juga berdebu. Sekali saja masuk kesitu, maka kita akan kebagian bau dan debunya. Sekarang, bayangkan jika di kantor yang setiap hari kita menghabiskan waktu 8 jam itu kondisinya buruk. Bisa dibayangkan betapa banyak pengaruh buruk yang bisa masuk kedalam diri kita kan?
 
Kita baru berbicara tentang hal-hal yang sifatnya fisik. Seperti debu, suasana yang sumpek, berantakan, dan hal-hal semacam itu. Meskipun pengaruhnya tidak bisa disepelekan, namun ada aspek lain yang jauh lebih merugikan. Yaitu, kondisi non fisik yang buruk. Jika di kantor Anda terlampau banyak intrik. Interaksi tidak sehat antar satu orang dengan lainnya. Atau terbentuknya ‘klan-klan’ fanatik departemen atau boss-nya, misalnya. Atau mungkin juga ada perilaku buruk dari orang-orang yang dominan. Maka kondisi itu sangat besar pengaruhnya kepada diri kita. Anda lebih cepat merasa lelah kan kalau bekerja dalam suasana yang penuh tekanan? Maka kita semua punya kepentingan yang sama untuk memastikan bahwa kantor kita bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Supaya tidak menginfeksi kita dengan suasana atau pengaruh-pengaruh yang buruk. Kan nggak seru juga kalau bĂȘte di kantor menempel ikut kita sampai ke rumah seperti virus yang dibawa pulang melalui flash disc itu.
 
System anti virus di computer saya memperingatkan bahwa flash disc itu harus segera dibersihkan. Jika tidak, maka dia akan menginfeksi computer lainnya. Ternyata sumber infeksi itu tidak hanya dari computer ke flash disc. Bisa sebaliknya juga. Di kantor juga begitu. Infeksi nilai-nilai atau sikap yang buruk itu tidak selalu datang dari lingkungan kepada individu-individu, melainkan juga sebaliknya. Suasana kantor yang menyenangkan bisa berubah menjadi buruk ketika ada orang-orang tertentu yang membuat keruh suasana kan? Itu artinya, kita sendiri pun bisa menginfeksi lingkungan kerja kita dengan sikap dan perilaku buruk kita. Maka jika kita ingin gembira, bahagia, dan senang hati selama bekerja di kantor; kita mesti menjaga suasana kantor tetap baik. Dengan cara, kita sendiri berperilaku baik. Karena setiap perilaku buruk kita akan menginfeksi lingkungan kerja kita seperti flash disc kotor yang bisa menginfeksi computer yang masih bersih.
 
Saya kan cuman anak buah. Bisa apa saya untuk membuat suasana kantor menjadi menyenangkan? Hey, setiap orang bisa berkontribusi loh. Kita bisa melakukan hal-hal sederhana. Cukup dengan perilaku kerja kita saja dulu misalnya. Memasang wajah yang ramah selama di kantor. Menghargai orang lain. Fokus kepada solusi, kalau menghadapi masalah dengan teman kerja. Hal-hal semudah itu saja dulu. Mungkin Anda menganggap ini hal sepele. Tapi percayalah, sikap baik Anda yang sederhana itu akan memberi warna yang indah dikantor Anda. Kepada orang baik, orang lain pun akan bersikap baik. Bahkan orang yang perilakunya jelek pun, sering bersikap baik kepada orang yang baik.
 
Sekalipun begitu, ada teman saya yang mengatakan bahwa dia sudah melakukan apapun yang terbaik untuk kantornya. Tapi suasana disana sudah sedemikian parahnya sehingga tidak ada yang bisa mengubahnya. Harapan itu sirna karena katanya, semua boss pun tidak peduli. Malahan sikap mereka kepada karyawan pun buruk sekali. Mana bisa karyawan yang diperlakukan buruk berkontribusi untuk kebaikan perusahaan? Begitu katanya. Menurut pendapat Anda, apa yang mesti dilakukan oleh teman kita yang berada di lingkungan kerja yang sudah ‘tidak bisa diselamatkan lagi’ itu?
 
Kepada anak-anak, saya mengatakan; “mulai saat ini, kita tidak usah menggunakan flash disc kita di tempat sembarangan ya…” saya mengatakan itu ketika kami melintasi tempat cetak warna itu. “Tapi kan kita perlu Yah….” Jawab anak-anak. Saya bilang, kita mesti datang ke tempat yang sudah dipastikan baik. Tidak mengandung virus-virus yang membahayakan buat flash disc kita. Soalnya, bahaya buat semua computer kita di rumah.
 
Seperti di kantor juga ya. Kita sering merasa kita sangat butuh. Sehingga pasrah saja untuk keluar masuk kantor itu. Boleh saja, jika efek nilai-nilai atau suasana buruk itu masih bisa Anda tolelir. Artinya, Anda tidak terpengaruh oleh cara berpikir, cara bersikap, dan cara kerja yang buruk. Ini buktinya, orang yang baik terlalu lama bekerja di kantor yang suasana kerjanya buruk. Kurang saling menghargai satu sama lain. Atau kerjanya pada lelet. Tahukah Anda, apa yang terjadi pada orang baik itu? Dia jadi ikutan lelet juga tuch. Ikut tidak peduli kepada orang lain. Dan ikutan cuek saja kalau ada sesuatu yang kurang pas terjadi disana. Saya, sudah cukup sering melihat suasana seperti itu. Dan Anda pun mungkin sering menyaksikan sutuasi seperti itu. Artinya, orang baik itu sudah ikut terinfeksi juga kan?
 
Anda, sanggup nggak untuk tetap terjaga baik kalau berada terus di kantor yang punya suasana kerja buruk itu? Jika sanggup tetap baik, stay there juga nggak apa-apa. Tapi kalau Anda tidak yakin bisa tetap menjadi pribadi yang baik; maka sebaiknya Anda start searching for a better place. Tapi kan susah banget cari kerjaan zaman sekarang? Mungkin dalam hati Anda ada keraguan itu. Anda betul. Susah mencari kerja zaman sekarang. Untuk orang-orang yang tidak memiliki keunggulan. Kalau Anda punya keunggulan. Punya kualitas pribadi yang baik. Punya keterampilan kerja yang bagus. Punya kegigihan, keuletan, kedisiplinan dan nilai tambah lainnya. Maka pekerjaan itu tidak sulit untuk ditemukan. Carilah tempat yang lebih baik, yang bisa menjadikan Anda pribadi yang tetap baik. Insya Allah, akan Anda temukan.
 
Bagaimana jika Anda tidak memiliki semua keunggulan yang saya sebutkan diatas itu? Gampang. Mulai sekarang, Anda bangun keunggulan pribadi itu. Supaya dalam satu atau dua tahun kedepan, Anda bisa membebaskan diri dari lingkungan kerja yang buruk. Saya memprovokasi Anda? Tidak. Saya justru mengajak Anda untuk tinggal, dan terus mengabdikan diri di perusahaan yang baik. Stay in a good company my friend. Karena di perusahaan yang baik, Anda akan terus disirami dengan nilai-nilai yang baik. Dan karena Anda orang yang baik, maka Anda bisa berkontribusi untuk menjadikan perusahaan Anda yang sudah baik itu untuk menjadi tempat kerja yang lebih baik lagi. Supaya kelak, kita bisa mewujudkan mimpi kita tentang menciptakan the best place to work for itu. Yaitu tempat terbaik, untuk membangun karir. Dan untuk itu, perusahaan baik membutuhkan orang-orang baik seperti Anda. So, start to build you personal excellence. Karena banyak perusahaan baik yang membutuhkan Anda.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 25 Maret 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Perusahaan yang baik hanya cocok untuk orang-orang yang baik. Sama seperti halnya orang-orang yang baik hanya cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang baik.
 
Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung dihttp://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Sebaik-baik Karyawan Itu...

Oleh: Dadang Kadarusman
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Di kantor Anda suka ada penobatan ‘employee of the year’, of the month, atau of the week? Atau semacam itulah kira-kira ya? Mungkin juga kantor Anda tidak biasa memberikan penghargaan seperti itu ya? Tetapi, saya yakin Anda pernah mendengar istilah-istilah itu, untuk menyebut seseorang sebagai ‘karyawan teladan’. Menurut pendapat Anda, apakah seseorang yang diumumkan menjadi karyawan terbaik itu memang benar-benar yang terbaik atau tidak? Mestinya memang begitu kan. Tetapi, boleh jadi; ada karyawan lain yang benar-benar yang terbaik. Sekalipun tidak pernah mendapat gelar sebagai ‘yang terbaik’ di perusahaan.
 
Dalam sebuah pertemuan tahunan suatu perusahaan, beberapa orang naik ke panggung untuk mendapatkan penghargaan dan bonus-bonus khusus atas prestasi dan pencapaiannya. Yang naik ke panggung semua senang. Namun orang-orang yang tetap duduk di kursi tidak semuanya senang. Ada saja yang berbisik; ‘orang kayak gitu kok disebut karyawan teladan…’ ada juga yang bilang begini;”halah, gue tahulah cara kerja dia yang sebenarnya…” Atau kalimat-kalimat bernada miring lainnya.
 
Itu menunjukkan bahwa penilaian tentang keteladanan dan kebaikan seseorang itu sering bersifat nisbi. Seseorang yang dianggap baik oleh seseorang, mungkin dianggap buruk oleh orang lainnya. Tetapi ada juga orang yang dianggap baik tanpa di pertanyakan oleh siapapun. Tentu, itu adalah orang yang memang bisa berbuat baik dalam segala situasi. Bisa kita sebut sebagai ‘sebaik-baiknya karyawan’. Apa sih kriteria sebaik-baik karyawan itu?
 
Kemarin sore di after office hour, saya mengirim pesan broadcast kepada teman-teman yang terhubung dengan BB saya. Begini bunyi pesan itu:
 
Bekerja itu, jelas untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga kita. Tapi bekerja juga bisa memberikan hasil yang lebih dari sekedar perolehan nafkah itu; jika selama bekerja, kita bisa memberi manfaat kepada orang lain.
 
Sahabatku, manfaat apakah yang Anda berikan bagi orang lain ketika Anda bekerja seharian tadi?  Jika belum, mari kita lakukan besok pagi ya…. Insya Allah kita bisa meraih lebih dari sekedar rupiah….
 
Besok paginya kemarin itu kan pagi ini ya? Maka pagi ini saya ingin berpesan kepada semua sahabat saya di BB dan dimana saja, agar meniatkan pergi bekerja itu untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan bagi mereka. Sebab kriteria utama karyawan yang sebaik-baiknya itu sungguh sangat sederhana. Yaitu; menjadi karyawan yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Ya sesederhana itu. Kriteria itu sejalan dengan nasihat berusia 1500 tahun dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda; “Sebaik-baik manusia adalah, yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
 
Maka sahabatku, bekerja itu bukanlah semata-mata mencari uang. Kita butuh uang, tentu saja. Namun lebih dari itu, bekerja adalah untuk menjadi insan yang terbaik; melalui pekerjaan kita. Dengan cara mendedikasikan seluruh tindakan kita selama bekerja itu, untuk kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Dengan cara itu, kita bisa menjadi karyawan terbaik yang sesungguhnya. Jika kita dipanggil keatas panggung, maka tak seorang pun mempertanyakan; kenapa kita dinobatkan sebagai karyawan terbaik. Jika pun tidak berkesempatan naik ke panggung elit itu, tenang saja. Karena kita tetap menjadi karyawan terbaik dimata semua orang yang pernah kita layani dengan baik. Dan terutama, kita menjadi pribadi terbaik; dihadapan Tuhan Yang Maha Baik
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Maret 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Bukan jabatan atau angka-angka yang menjadikan kita karyawan terbaik. Melainkan manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Thursday, March 7, 2013

15 Manajemen Hidup

Oleh Aping - Komisi Banjarmasin

1. MANUSIA yg paling berbahaya adalah “TUKANG GOSSIP”.
2. SENJATA yg paling berbahaya adalah ”LIDAH”.
3. KEBIASAAN yg paling merusak adalah ”KUATIR”.
4. PERASAAN yg paling tak berguna adalah ”Tak Percaya Diri”.
5. KEGAGALAN yg paling melumpuhkan adalah ”ALASAN” yg di ”BUAT - BUAT”.
6. KONDISI yg terburuk adalah Jk KITA tak mempunyai ”HARAPAN”.
7. PAKAIAN yg paling indah di dunia adalah ”SENYUMAN”.
8. SUKACITA yg terbesar adalah ”BERAMAL”.
9. PEKERJAAN yg paling memuaskan adalah ”BERBUAT KEBAJIKAN”.
10. KOMPUTER yg paling hebat adalah ”PIKIRAN MANUSIA”.
11. ENERGI yg terbesar adalah dorongan ”SEMANGAT HIDUP”.
12. OBAT TIDUR yg paling mujarab adalah ”PIKIRAN” yg ”DAMAI”.
13. DUA KATA yg penuh kekuatan adalah "SAYA BISA".
14. Aset yg terbesar adalah "KEMULIAAN HATI.
15. Alat Komunikasi yg paling Hebat adalah "PIKIRAN BERSIH".

Sunday, March 3, 2013

Eath Hour Environmental Tips March 4th 2013

DAILY GREEN TIPS
Day 4: March 4th 2013
 
Diet on Plastic Bags. While shopping, skip the shopping bag. Instead, bring your own.
 
Diet Plastik. Saat belanja, kurangi penggunaan plastik dengan selalu membawa tas belanja sendiri.
 
DAILY FACTS ABOUT EARTH HOUR
Day 4: March 4th 2013
What does Earth Hour ask people to do?
Earth Hour encourages individuals, businesses and governments to show leadership on environmental solutions through their actions, to use Earth Hour as a platform to showcase to the world what measures they are taking to reduce their environmental impact. Earth Hour asks everyone to take personal accountability for their impact on the planet and make behavioral changes to facilitate a sustainable lifestyle. Taking the first step is as easy as turning off your lights. By switching off your lights for Earth Hour you are acknowledging and celebrating your commitment to do something more for the planet that goes beyond the hour.
Apa yang Earth Hour inginkan dari masyarakat?
Earth Hour mendorong tiap individu, swasta dan pemerintah untuk menunjukkan kepemimpinan dalam hal solusi terhadap lingkungan melalui tindakan nyata, dengan menggunakan Earth Hour sebagai platform untuk menunjukkan kepada dunia tentang batasan-batasan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan. Earth Hour mengajak semua orang untuk mengambil tanggung jawab pribadi atas dampak mereka terhadap bumi dan melakukan perubahan perilaku guna mem-fasilitasi gaya-hidup berkelanjutan. Langkah awal semudah mematikan lampu Anda. Dengan mematikan lampu untuk Earth Hour, Anda telah menyadari sekaligus merayakan komitmen Anda untuk melakukan sesuatu yang lebih bagi bumi, yang mana jauh melampau konsep satu jam itu sendiri.
 

Saturday, March 2, 2013

Earth Hour Environmental Tips March 3rd 2013


DAILY GREEN TIPS
Day 3: March 3rd 2013

Use once-used Paper.  For internal use, drafting or sketches, try always using used paper. Stop killing the tree!

Gunakan Kertas Bekas.  Untuk kebutuhan internal, membuat draft ataupun coretan sketsa, usahakan selalu menggunakan kertas bekas. Hentikan penggundulan hutan!



DAILY FACTS ABOUT EARTH HOUR
Day 3: March 3rd 2013

What does Earth Hour aim to achieve?
Earth Hour aims at encouraging an interconnected global community to share the opportunities and challenges of creating a sustainable world.

Apa tujuan Earth Hour?
Earth Hour bertujuan mendorong masyarakat sedunia untuk berbagi kesempatan dan tantangan dalam menciptakan dunia yang berkelanjutan

Friday, March 1, 2013

Earth Hour - Environmental Tips March 2nd 2013


DAILY GREEN TIPS
Day 2: March 2nd 2013

Paper Napkin vs Cloth Napkin.  Replace paper napkins with a special set of cloth towels/napkins (or cut up old t-shirts). Store it and just wash and reuse.

Serbet Kertas vs Serbet Kain.  Kurangi penggunaan kertas tissue dan gantilah dengan serbet kain. Bisa juga potongan kain baju bekas. Cuci dan simpan agar dapat digunakan berulang-ulang.


DAILY FACTS ABOUT EARTH HOUR
Day 2: March 2nd 2013

When does Earth Hour take place? 
Earth Hour 2013 will be held on Saturday 23 March between 8.30PM and 9.30PM in your local time zone.

Kapan Earth Hour dilaksanakan?
Earth Hour 2013 akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 23 Maret antara pukul 08:30 malam hingga 09:30 malam waktu setempat.

Earth Hour - Environmental Tips - March 1st 2013


DAILY GREEN TIPS
Day 1: March 1st  2013

OFF as You GO. Always switch-off your office’s or room’s lights whenever you leave them.

Matikan Lampu bila tak Perlu. Bila tidak sedang digunakan, biasakan mematikan lampu ruangan (kantor, kamar ataupun tempat tinggal).


DAILY FACTS ABOUT EARTH HOUR
Day 1: March 1st 2013

What is Earth Hour?
Earth Hour is a global movement uniting people to protect the planet. Towards the end of March every year, Earth Hour brings together communities from across the world celebrating a commitment to the planet by switching off lights for one designated hour. In 2013, Earth Hour will be held on March 23rd 2013 from 20:30hrs to 21:30hrs local time.

Apa itu Earth Hour?
Earth Hour adalah gerakan sedunia dalam menyatukan umat manusia untuk melindungi bumi dari kerusakan lingkungan. Setiap tahun, Earth Hour dilaksanakan menjelang akhir bulan Maret. Earth Hour menyatukan masyarakat dunia untuk merayakan komitmen terhadap keberlanjutan bumi dengan (secara simbolik) mematikan lampu selama satu jam. Untuk tahun 2013, Earth Hour akan diaksanakan pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 20:30 hingga 21:30 waktu setempat.

Saturday, January 19, 2013

Kaya Beneran


Oleh: Dadang Kadarusman
 
“Siapa yang ingin kaya, angkat tangan!?!” Misalkan saja seseorang berteriak seperti itu di sebuah forum yang Anda ikuti, apakah Anda akan ikut angkat tangan? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Jika Anda tidak ikutan mengangkat tangan, apakah itu artinya Anda tidak ingin kaya? Saya yakin, Anda – seperti halnya saya – ingin kaya; sekalipun Anda tidak ikut-ikutan mengangkat tangan. Kenapa saya yakin? Karena saya pun belum tentu mau mengangkat tangan jika seseorang memerintahkan itu kepada saya. Walaupun saya mendapatkan ‘imbalan’ berupa pernyataan ini;”Gimana mau kaya, ngangkat tangan saja tidak mau!”.  Sekarang saya semakin sadar, bahwa bagi beberapa orang; urusan menjadi kaya ini merupakan urusan pribadi. Dan saya sendiri bukan sekedar ingin menjadi orang kaya, melainkan menjadi orang ‘kaya beneran’. Lho, memangnya ada orang yang kaya abal-abal?
 
Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua saya dikampung. Dengan Ayah, biasanya saya ngobrol soal politik dan tanaman sayuran di kebun Ayah. Dengan Ibu, biasanya saya bicara soal ‘gosip’ yang sedang menghangat di kampung kami seperti proses pemilihan lurah, atau pendataan lansia, atau soal Pendidikan Anak Usia Dini dimana Ibu saya ikut mengelolanya. Namanya gossip, seru banget. Salah satunya soal penggebukkan seorang warga pendatang di kampung kami. Barbar? Tidak usah buru-buru memvonis dulu. Peristiwa itu terjadi bukan tanpa sebab. Konon lelaki perlente itu menikahi salah seorang gadis di kampung kami. Jadi sekarang dia sudah menjadi bagian dari warga kami. Yang menjadi masalah adalah; ‘ternyata keadaan sebenarnya orang itu tidak seperti yang diperlihatkannya ketika sebelum menikah’.
 
Setiap kali berkunjung ke rumah pacarnya, lelaki itu selalu mengendarai mobil mewah. Bukan sekedar mewah. Bahkan berganti-ganti. Orangnya royal. Dan pakaiannya menjadikan dirinya sebagai lelaki yang ‘charming’. Begitu menikah, tiba-tiba saja semuanya berubah. Mobil dan semua kemewahan itu tidak pernah lagi menemani kehadirannya. Maka ketika keluarga dan kerabat gadis itu menyadari telah dibohongi, terjadilah peristiwa itu.
 
Gosip itu hanya contoh kecil, betapa kita mudah terpesona oleh penampilan dan tongkrongan seseorang. Kalau soal ganti-ganti gadget sih, sudah tidak terlalu wah lagi kali ya. Pembantu saya juga gadgetnya lebih bagus dari milik saya. Kita, selalu terpesona pada kekayaan yang massif. Misalnya, kepada seseorang yang rumahnya besar, megah dan mewah; maka kita menyebutnya orang kaya. Bila orang itu punya berbagai macam mobil keren lengkap dengan plat nomor khusus 3 huruf sesuai inisial namanya; maka kita pun menyebutnya orang kaya sekali. Kalau orang itu juga mengenakan gelang atau kalung emas segede tali tambang galangan kapal, kita langsung terkesima sembari berkata dalam hati; “Gile, gelangnya gede banget…….” Dia orang yang kaya Bang-Gets!
 
Sudah kayakah orang yang kita lihat itu? Jelas. Mereka kaya sekali. Jika mereka tidak kaya, bagaimana mungkin bisa hidup dalam gelimang kemewahan seperti itu, kan? Coba sekarang bandingkan dengan diri kita sendiri. Halah, rasanya kok seperti jarak antara langit dan bumi. Rumah biasa saja. Masih kreditan pula. Boro-boro renovasi. Membayar cicilan bulannya saja masih sering sambil mengurut dada segala. Mobil satu-satunya pun sudah lumayan berumur. Kalau baru juga tidak termasuk mewah. Meskipun masih bau dealer, tapi juga masih agak minder kalau pas reuni dengan teman-teman kuliahan. Mereknya, nggak benafid banget. Jangan lupa juga, itu pun statusnya fasilitas kantor. Jelas jika kita kalah kaya dibandingkan teman-teman yang berumah besar, bermobil banyak, dan berpenampilan necis itu. Tetapi, apakah mereka benar-benar kaya? Nah, kalau soal ini; kita tidak tahu persis.
 
Sungguh, saya masih sering merindukan untuk menjadi orang kaya. Anda juga kan? Sebaiknya begitu, kecuali Anda sudah menjadi orang kaya. Kaya beneran itu tadi. Dan setiap kali saya melintasi rumah megah yang besarnya minta ampun, saya selalu berbisik dalam hati;”orang ini kerjanya apa sih kok bisa punya rumah segede gini…?”
 
Setiap kali mobil kelas menengah saya ini disalip oleh mobil sport mewah yang berpelat khusus saya bertanya-tanya;”Gimana sih cara orang itu menghasilkan uang sampai bisa punya mobil sebagus itu?” Cemburu saya. Sambil sesekali gigit jari karena baru bisa bermimpi.
 
Namun gossip bersama Ibu saya itu menyadarkan saya kembali, bahwa menjadi kaya; itu bukan tujuan saya. Karena tujuan saya – yang sampai sekarang masih belum terwujud –  adalah; menjadi orang yang kaya beneran. Seperti apa sih yang kaya beneran itu?
 
Mungkin Anda bisa memberikan definisi dan penjelasan masing-masing. Kalau saya, hanya akan bisa menunjukkan beberapa fenomena berikut ini. Pertama, di televisi kita sering melihat selebriti yang kaya sekali dengan kehidupannya yang glamor. Beberapa bulan kemudian, selebriti itu muncul di headline berita tentang penipuan miliaran rupiah yang dilakukannya. Orang glamor seperti itu, mungkin kaya. Tapi bukan kaya beneran.
 
Kedua, ada lelaki flamboyant yang perlente. Mengendarai mobil eropa yang langka. Gemar mentraktir disana-sini – khususnya bagi para perempuan cantik. Tentu, sambil meletakkan kunci mobil diatas meja makan. Melalui smart phone canggihnya dia rajin mengirimkan kata-kata mutiara yang indah seperti ‘kamu cantik’, ‘sedang apa sayang,’ ‘aku kengen,’ dan lantunan buaian indah ala pujangga lainnya. Tidak peduli, jika perempuan-perempuan itu sudah pada punya suami. Para lelaki lain yang tidak sanggup menyaingi keflamboyanannya hanya bisa ngiri dari kejauhan. Tetapi, ada satu lelaki ditempat tinggalnya yang tidak iri kepada orang itu. Dia adalah Pak Ketua RT. Tahu kenapa? Karena Pak Ketua RT itulah yang memberi keterangan ketika para debt kolektor bank hendak melakukan penagihan atas hutang-hutangnya yang dikemplang. Apakah sang cassanova itu orang kaya? Mungkin. Tapi kaya beneran? Hmmh…
 
Ketiga. Ada begitu banyak berita dan fenomena nyata yang sampai kehadapan kita tentang orang-orang yang kehidupan dunianya serba wah dan mewah. Bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya. Dijadikan acuan dan panutan oleh para pemimpi yang baru bisa ngiler seperti kita. Namun ketika orang-orang itu meninggal, mendadak saja; mobilnya disita bank. Rumahnya disegel orang. Rekening banknya dibekukan. Mereka kaya? Benar. Mereka kaya. Dan telah menikmati hidup sebagai orang kaya. Namun apakah mereka kaya beneran?
 
Semua fenomena itu seolah sengaja dipampangkan dihadapan mata kita, supaya kita tidak lagi sekedar bercita-cita untuk menjadi orang kaya. Banyak cara untuk menjadi kaya. Mau pilih yang mana? Bahkan seminarnya pun ada. Dan selalu dihadiri oleh  peminat yang membludak. Kita, bisa dengan mudah mendapatkan nasihat dari banyak pakar untuk mendapatkan kekayaan. Begini. Begitu. Begono. Tapi masih sangat sedikit sekali nasihat untuk menjadi orang kaya beneran. Karenanya, untuk sementara ini kita mesti rajin-rajin mengingatkan diri sendiri mengenai koridor dan rambu-rambunya.
 
Meskipun sedikit. Dan jarang diutarakan diruang-ruang seminar maupun kantor-kantor konsultan perburuan kekayaan. Namun ada sebuah nasihat yang sangat berharga sekali untuk dipahami dan dipegang teguh oleh para perindu kekayaan seperti kita ini. Nasihat itu berbunyi begini;” “…tentang hartanya – seorang hamba akan ditanya – darimana dia mendapatkannya, dan untuk apakah dia menggunakannya….” Nasihat ini, datangnya bukan dari konsultan kekayaan, melainkan dari Rasulullah solallahu ‘alihi wasallam.
 
“Halah, itu kan soal akhirat. Masih jauuuuuh!” mungkin kita berpendapat demikian. Keliru. Lihatlah. Hukum manusia pun zaman sekarang sudah mensyaratkan laporan kekayaan untuk orang-orang yang ingin menduduki jabatan tertentu. Akhirat, mungkin masih jauh. Tapi tanda-tanda kebenarannya sudah semakin kelihatan didunia yang kita huni ini. Maka dari itu sahabatku, mari kita bercita-cita untuk menjadi orang kaya yang beneran.
 
Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Dari manakah harta yang engkau miliki itu didapatkan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan hati tenteram. Jika untuk mendapatkan setiap rupiah yang kita miliki ini, kita hanya melakukan cara-cara dan metoda-metoda yang Tuhan sukai.  
 
Yaitu, orang kaya yang tidak malu dan tidak perlu menyembunyikan jawaban ketika ditanya; “Untuk apakah harta yang engkau miliki itu digunakan……?” Kita, bisa menjawabnya dengan jiwa yang lapang. Jika setiap rupiah yang kita miliki ini, digunakan hanya untuk membeli dan membiayai hal-hal yang Tuhan ridoi.  Jadi, masihkah Anda ingin menjadi orang kaya? Atau sekarang, Anda sudah ingin menjadi orang kaya beneran? Semoga Allah, menunjukkan jalannya. Dan menguatkan kita untuk meraihnya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
Leadership and Personnel Development Trainer
0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
 
Catatan Kaki:
Tidak usah silau dengan kekayaan orang lain. Karena kita, tidak pernah tahu siapa sesungguhnya sang pemilik kekayaan itu.
 
Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.

Mengelola Kesibukan Di Kantor


Oleh:
Dadang Kadarusman

Dalam beberapa hari terakhir, kita sudah membahas tentang kesibukan dari berbagai aspek. Hingga kita memahami bahwa ada kesibukan semu. Yaitu kebibukan yang kita klaim. Kita ini sebenarnya tidak sibuk. Tapi kita merasa sibuk sekali. Itu yang kita sebut sebagai sibuk dari Hong Kong. Yang kedua adalah kesibukan yang sebenarnya. Nggak dibuat-buat. Kita benar-benar sibuk hingga ke ubun-ubun. Sekalipun demikian, sejauh ini kita baru membahas kesibukan itu dari aspek pribadi. Artinya, bagaimana kita secara pribadi menyikapi kesibukan itu. Agar efektivitas dan produktivitas pribadi bisa tetap terpelihara. Pertanyaannya adalah; apakah kesibukan itu bisa diatasi secara kelembagaan, system atau melalui kebijakan? Supaya sebanyak apapun pekerjaan, karyawan bisa menikmati hari-hari kerjanya. Dan terus bersemangat dalam jangka panjang. Gampangnya begini; sebagai seorang pemimpin, bisakah Anda membantu perusahaan dan anak buah Anda untuk mengelola kesibukan hingga ke ubun-ubun itu secara tepat?
 
Jika mengenang kisah itu, saya masih suka senyum-senyum sendiri. Saya ceritakan ya, tapi disamarkan detailnya. Dikantor kami dulu ada atasan yang betah sekali bekerja. Efek sampingnya adalah; anak buahnya jadi sungkan kalau mau pulang. Padahal, untuk meninggalkan kantor, mereka mesti melintasi ruang kerja beliau. Ada teman nih, yang sudah nggak tahan. Pengen pulang. Wajar dong, kan sudah malam. Maka dia pun mengendap-endap menuju pintu keluar. Sudah bagus sih tekniknya. Tidak ada suara dari sepatunya. Tidak ada hal apapun yang mencurigakan. Maka, kawan kita pun melanjutkan jinjitnya sambil membungkuk. Ndilalah. Selagi merayap itu, bossnya kepingin ke toilet. Maka beliau pun bergegas keluar dari ruangannya. Pas didepan pintu, beliau melihat anak buahnya sedang merayap dengan tubuh yang ditekuk. Mereka pun sama-sama terperanjatnya. Yang satu terkejut karena ketahuan. Yang satu lagi terkejut karena mengira ada mahluk jadi-jadian. Ini salah satu contoh dampak dari tata kelola yang keliru terhadap kesibukan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar mengelola kesibukan yang terjadi di kantor, saya ajak memulainya dengan memahami dan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™)berikut ini:   
 
1.      Kesibukan itu bukan rutinitas. Salah satu ciri kesibukan yang sebenarnya adalah; tidak terjadi setiap hari secara terus menerus. Sengaja saya menggunakan kalimat negatif ini; “tidak terjadi setiap hari secara terus menerus”. Mengapa? Karena kita sering keliru mengira bahwa team kerja atau perusahaan yang paling baik adalah team kerja yang setiap hari bekerja pak pik pek terus. Selalu mulai paling awal. Dan selalu selesai paling akhir. Dengan mulut manyun dan muka kusyut sepanjang waktu. Padahal, jika kesibukan itu sudah menjadi sebuah rutinitas, maka ada kemungkinan bahwa hal itu terjadi karena ada yang salah dalam cara kerja atau proses bisnis mereka. Jadi, jika team kerja yang Anda pimpin ‘selalu’ sibuk sehingga hal-hal rutin berupa tugas-tugas pokok harian itu sudah menyita waktu dan energy yang sedemikian banyaknya, sebaiknya jangan berbangga hati dulu. Karena boleh jadi, justru hal merupakan sebuah sinyal adanya ketidakberesan dalam pola kerja team Anda. Hampir bisa dipastikan, bahwa kesibukan sampai keubun-ubun yang menjadi rutinitas bukan kesibukan yang tepat. Karena kesibukan itu, bukan sebuah rutinitas.
 
2.      Temukan alasan logis munculnya kesibukan itu. Penting lho, untuk menemukan alasan yang logis tentang munculnya kesibukan yang kita alami. Misalnya, sedang ada proyek yang sudah mendekati deadline. Atau sedang ada jadwal submission laporan keuangan kuartalan ke kantor pusat. Atau, system sedang crash sehingga mesti segera diatasi. Perhatikan kembali ketiga situasi diatas. Semuanya menuntut kita bekerja sampai larut malam. Bahkan mesti sampai menginap. Namun sangat jelas alasannya. Karena ada sesuatu yang istimewa a.k.a kejadian luar biasa yang menuntut kita untuk bekerja dengan kesibukan luar biasa. Perhatikan frase ‘luar biasa’ yang saya gunakan. Itu menunjukkan bahwa kesibukan hingga ke ubun-ubun bukanlah untuk hal-hal yang biasa-biasa saja. Bukan untuk tugas harian normal. Dan bukan untuk kesibukan yang tidak jelas alasannya. Ketika kita bisa menunjukkan alasan logis itu kepada anak buah; maka mereka juga akan mudah untuk memahami, dan menerima konsekuensinya. Yaitu berupa; dukungan penuh dari mereka untuk bekerja ‘habis-habisan’ dalam situasi yang sudah mereka pahami secara logis itu. Ini menunjukkan bahwa alasan logis, bisa menggungah aspek nurani anak buah kita. So, temukan alasan logisnya; maka anak buah Anda akan berkomitmen penuh mendukungnya.
 
3.      Menjadi pemain utama dalam gelangggang kesibukan. “Gimana, sudah selesai?” Pertanyaan itu bisa menjadi sangat menyebalkan, jika datang dari atasan yang dia sendiri tidak ikut terlibat dalam kesibukan anak buahnya. Bayangkan deh. Anda dihadapkan pada situasi urgent sekali. Maka Anda punya alasan logis untuk sibuk banget kan? Tapi atasan Anda cuman ongkang-ongkang kali doang. Terus dia bertanya seperti tadi. Mending kalau Anda beneran sudah selesai. Kalau belum, “pengen diapain ya itu orang?”  kira-kira begitulah serapah dalam hati Anda bukan? Tapi. Pertanyaan itu juga bisa terdengar merdu, jika keluar dari mulut seorang atasan yang ikut terlibat langsung dalam kesibukan yang minta ampun itu. Anda senang mendapat pertanyaan itu, karena beliau ikut merasakan ketegangan dan kesulitannya bersama Anda. “Belum Pak, dikit lagi nih…” kan begitu jawabnya kira-kira. Coba kalau beliau bertanya sambil asyik sendiri di ruang kerjanya? Anda tidak akan punya semangat untuk menyelesaikannya. Kira-kira sikap seperti itu jugalah yang akan terjadi, jika kita yang menjadi atasan itu. Anak buah kita, akan respek kepada kita jika kita pun ikut terlibat. Bukan cuman nonton doang. Merintah-merintah melulu. Padahal kita sendiri asyik-asyik aja. So, jadilah pemain utama dalam gelanggang kesibukan itu bersama anak buah Anda.
 
4.      Kesibukan pribadi bukan kesibukan kolektif. “Kan sudah jadi konsekuensi kalian. Mau jadi pegawai tapi tidak mau sibuk? Kerja di perusahaan nenek kamu sendiri saja kalau begitu,” begitulah kira-kira tuntutan seorang atasan kepada anak buahnya. Beliau, memang dikenal sebagai orang yang sangat rajin bekerja. Datang selalu paling pagi. Pulang selalu paling malam. Jika yang menjadi beliau itu Anda, maka ketahuilah; bahwa cara kerja Anda itu tidak akan bisa diikuti oleh anak buah. Kenapa? Karena mereka, bukanlah Anda. Boleh saja jika Anda mau kerja extra terus menerus. Tapi, Anda bahkan tidak berhak menuntut hal yang sama dari anak buah Anda. Banyak lho, atasan yang gila kerja kemudian menuntut anak buahnya juga berperilaku sama. “Elo belum boleh pulang, kalau gue belum pulang!” Walhasil, beliau selalu memandang negatif anak buahnya yang tidak dikantor selama beliau. Sedangkan anak buahnya merasa diperlakukan seperti robot. Tidak nyambung deh antara atasan dan bawahan. Jadi jika Anda berada pada posisi sebagai atasan dan Anda suka sekali kerja extra, maka penting juga untuk Anda pahami bahwa pola kesibukan pribadi kita, tidak bisa dipaksakan untuk menjadi pola kesibukan kolektif di lingkungan atau team yang kita pimpin.
 
5.      Terlihat baik, belum tentu baik-baik saja “Nggak masalah kok Dang. Selama ini baik-baik saja.” Pernahkah Anda mendengar kalimat seperti itu? Kalimat yang datang dari atasan yang mengira team kerjanya baik-baik saja. Padahal sebenarnya tidak. Indikasinya apa? Satu, anak buah suka ngomongin di belakang. Dua, anak buahnya suka menggerutu. Tiga, anak buahnya giat hanya jika beliau ada. Empat, beliau sendiri mesti cape mengecek bolak balik. Lima – yang lebih parah nih – tingkat turn over karyawan di team kerjanya tinggi. Mungkin kinerjanya juga tinggi lho, memang. Namun, keberhasilan sebuah kepemimpinan tidaklah semata-mata diukur dengan angka-angka produksi. Melainkan juga dari tingkat kenyamanan dan kesediaan anak buah kita untuk tinggal bersama kita di team yang kita pimpin. Banyak lho atasan yang merasa bangga karena team kerjanya selalu menghasilkan kinerja yang tinggi dari hasil memforsir anak buahnya terus menerus. Makanya, mereka mengira semuanya baik-baik saja. Padahal, anak buahnya pada sibuk membeli koran hari sabtu dan minggu. Itu yang sering sekali mereka tidak tahu.
 
Hloh!
Bukankah perusahaan untung jika karyawannya di buat sibuk sampai ke ubun-ubun secara terus menerus? Benar. Namun keuntungan yang didapat perusahaan dengan cara seperti itu hanya bersifat sesaat. Dalam jangka panjang, justru perusahaan yang rugi. Misalnya kerugian dari perginya talenta-talenta terbaik kita. Soal talenta ini, kita tidak bisa mengatakan;”gampanglah, cari saja gantinya. Banyak kok yang mau kerja.” Hati-hati. Yang mau kerja memang banyak. Tapi yang benar-benar punya talenta terasah? Nggak semudah yang kita kira untuk kembali menggaet mereka. Belum lagi kalau dihitung biayanya. Waktu yang tersita. Sumber daya lain yang tidak terdayagunakan secara optimal. Ujung-ujungnya, zero sump up juga. Jadi, siapa yang paling bertanggungjawab untuk mengatasi hal ini? Setiap orang yang punya anak buah. Tidak masalah titelnya apa. Juga tidak jadi soal levelnya seberapa. Jika punya anak buah; maka kita punya kewajiban untuk mengelola kesibukan di kantor dengan sebaik-baiknya.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
Leadership and Personnel Development Trainer
Phone: 0812 19899 737 (PIN BB: 2A495F1D)   
 
Catatan Kaki:
Orang kerja memang harus sibuk setiap hari. Tapi, kesibukan luar biasa hanya bisa dimakulmi ketika perusahaan sedang menghadapi situasi yang juga luar biasa.
 
Ingin mendapatkan kiriman “L (= Leaderism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung di http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain, langsung saja; tidak usah minta izin dulu. Tapi tolong, jangan diklaim sebagai tulisan Anda sendiri supaya pahala Anda tidak berkurang karenanya.