Showing posts with label marcom. Show all posts
Showing posts with label marcom. Show all posts

Sunday, April 26, 2020

Usaha Kuliner dan Upaya Bertahan Melawan Covid-19


Part 1, Basic Strategy: "Bertahan"

oleh: Mohammad Iqbal, SST.Par *

Wabah Covid-19 ini begitu dahsyat. Dampaknya yang masif bukan hanya meruntuhkan aspek kesehatan, melainkan juga mengguncang hampir semua lini kehidupan. Perekonomian dan dunia usaha apapun sektornya, dimanapun berada, pastilah TERDAMPAK.

Apakah selalu DAMPAK negatif? Eit, tunggu dulu, ada juga sektor yang terDAMPAK positif, bahkan tumbuh berkembang, karena sejatinya, di setiap masa krisis, selalu ada saja yang THE FALL dan THE RISE.

The RISE..! Industri farmasi dan alat kesehatan saya kira yang pertama-tama makin tumbuh dan berkembang. SEelain itu, garmen dengan kebutuhan khusus (mask, APD, dll), manufaktur dan retail bidang kebersihan/chemical (detergen, sabun, dll), internet, delivery service, online service, home education, home intertainment, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia untuk bisa diantar dan dinikmati  #dirumahaja. Kini mereka panen.

Bagaimana dengan the FALL? Mungkin usaha yang terpapar negatif jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Misalnya yang pertama-tama kali merasakan adalah pariwisata (obyek wisata, taman rekreasi, travel, perhotelan, cafe, dine-in based restaurant),  MICE (meeting, insentive, conference, exhibition), kemudian usaha transportasi, semua perdagangan yang non kebutuhan sehari-hari, sektor UMKM, dan selanjutnya semua sektor yang bersifat tersier seperti live entertainment (concert, orkes dangdutan), event organizer, properti, konstruksi, tekstil dan garmen non-medis, otomotif, dan masih banyak lagi.

Dampak Wabah Covid terhadap Bisnis Rumah Makan (Food & Beverage)
Nah, usaha di bidang kuliner dan restoran juga ikut terdampak. Meskipun dalam Pergub DKI Jakarta No. 33 Th. 2020 pasal 10 ayat 3 disebutkan bahwa usaha penyedia makanan masih diperbolehkan melakukan aktifitas dengan pembatasan, namun tetap saja penjualan mengalami penurunan yang signifikan.

Tercatat sejak tanggal 16 Maret 2020, sales revenue di semua cabang BarBurGer mengalami grafik penurunan yang bertahap, perlahan namun pasti, hari per hari omzet sedikit demi sedikit terkikis dan drastisnya terjadi sejak diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Hal yang sama juga berlaku pada brand dBestO Chicken & Burger. Parahnya lagi, bagi usaha restoran atau rumah makan yang karakternya adalah mengusung kenyamanan dine-in seperti steakhouse Barapi Meat & Grill, penurunanannya lebih ekstrim, karena pelanggan DILARANG makan di tempat (dine-in), di masa pandemi ini.

Pada dasarnya, dari segi layanan, setidaknya ada 2 jenis rumah makan yang terdampak dengan kadar berbeda. Pertama; restoran FASTFOOD dan yang terbiasa dengan layanan cepat khas takeaway/delivery service. Kedua; restoran DINE-IN yang karakter hidangan dan konsep layanannya adalah full-service dining.

Dua jenis restoran ini mengalami dampak yang berbeda. Fastfood cenderung masih bisa bertahan karena selama ini sudah terbiasa melayani take-away, drive-thru, delivery service dan online delivery berbasis aplikasi, dan ditunjang dengan harga yang cenderung murah karena menu yang ditawarkan bersifat sangat basic n simple, misalnya ayam goreng plus nasi. Murah, tetap enak dibawa pulang atau dipesan antar dan mudah dipanaskan kembali untuk disajikan nanti.

Umumnya, resto kategori ini masih bisa survive secara alami. Tidak “ngapa-ngapain” aja memang gofood dan grabfoodnya sudah ramai. Sebelum ada covid, pelanggan sudah biasa order untuk takeaway. Nah saat pendemi ini, beberapa brand omzet dari sisi order takeaway-nya malah meningkat. Contoh; McDonald, BarBurGer, KFC, Geprek Bensu, dBestO, Hokben, Haus dan lain sebagainya. Brand-brand yang saya sebut ini tentulah mengalami penurunan revenue, tetapi masih mending lah.

Berbeda dengan kategori kedua, yaitu resto yang image, konsep dan layanannya mengutamakan kenyamanan pengalaman santap hidangan di tempat (dine-in service), pastinya mengalami dampak yang lebih berat. Ditambah lagi, bila menu yang ditawarkan selama ini adalah menu yang oleh konsumen dikenal sebagai  makanan yang “lebih lezat” bila dihidangkan langsung ditempat. Diperperah lagi bila harga menu di kelas menengah keatas. Makin tragis lagi, bila resto ini berada di area obyek wisata, taman rekreasi atau di dalam mall. Paket komplit lah jadinya. Contoh, HolyCow, SushiTei, Barapi Meat & Grill, SeribuRasa, Nanny’s Pavillon, Chilis, TGIF, Fish&Co, Remboelan, dan masih banyak lagi. Oh ya, tentunya semua resto grade A dan B (mewah n mahal) yang berlokasi di Mall juga keok, karena mall-nya tutup operasional.

Nah, sebenarnya masih ada lagi yang terparah, yaitu jenis Cafe & Resto yang memiliki nightlife dan entertainment, yang murni mengunggulkan entertainment ambience, nitelife dan lifestyle. Umumnya ada di dalam hotel bintang lima atau Cafe-Bar-Pub yang berlokasi independent namun harus terpaksa tutup karena aturan jam malam.

Bertahanlah!
Lalu apa saja upaya dan bagaimana agar usaha kuliner bisa bertahan di masa resesi ini? Sebelum menjawabnya, terlebih dahulu saya perjelas bahwa di saat seperti ini faktor penjualan (sales) yang sangat terkait dengan kondisi psikologi, perilaku, mood dan opini pelanggan itu sangatlah bersifat EXTERNAL dan relatif SULIT DIKENDALIKAN.

Oleh karena itu, kendalikanlah faktor2 yang memang masih bisa kita kontrol secara INTERNAL. Apa saja itu? Pastinya, bukanlah aspek penjualan. Berikut adalah opini saya pribadi dari sudut pandang pelaku usaha penyedia makanan, antara lain:

1.       Expenses
2.       COGS
3.       Utility Cost
4.       Manpower

Pengeluaran (Expenses)
Inilah faktor pertama kali yang paling bisa kita kendalikan, yaitu aspek PENGELUARAN. Intinya, belanjalah yang seperlunya. Hemat-hematlah dalam pengeluaran. Belilah keperluan yang basic, mendasar dan yang penting-penting saja. Jumlahnyapun kalau bisa seperempat atau setengah dari yang biasa dibeli saat kondisi normal. Kalau bisa “ngutang” ya hutang dulu, bayarnya nanti-nanti saja. Belanja untuk keperluan investasi? Untuk saat ini, buang jauh-jauh pikiran kotor itu! Gak penting!

Di usaha resto biasanya keperluan sehari–hari seperti beli plastik, uang parkir, detergen, chemical,dan hal-hal pelangkap lainnya.  Ingat, seperlunya saja.

Bahan Baku (dan semua yang masuk kategori variable cost)
Dalam usaha resto, dikenal dengan sitilah COGS (Cost of Good Sold), yaitu semua bahan-bahan atau item-item yang menjadi unsur tersusunnya suatu produk (dalam hal ini adalah menu makanan), yang bisa diperhitungkan (plus atau minus) bila suatu produk itu terjual.  Bila tidak terjual, tapi berkurang, berarti menjadi waste atau lost. Gampangnya disebut bahan baku. Ini termasuk apa saja yang melekat pada produk, sekecil apapun itu, termasuk packaging, saus sachet, sendok/garpu plastik, dan lain-lain, banyak printilannya.

Nah, prinsipnya hampir sama seperti expenses. Harus efisien, tidak ada lost, tidak ada rusak. Berkurangnya harus karena terjual, bukan terhutang, bukan hilang atau rusak dan basi. Karena bila tidak, makan akan menjadi beban yang tinggi. Oleh karena itu karyawan haruslah order atau beli bahan baku yang secukupnya saja, jangan menumpuk stock, harus berdasarkan FIFO (first in first out) dan harus berdasarkan prediksi penjualan yang sedang sepi ini.

Bahan baku harus disimpan dengan higienis dan aman, serta terdata atau terinventory dengan tertib dan rapi, setiap hari. Bila tidak tercatat rapi, berhentilah usaha resto, karena itulah paru-parunya bisnis boga.

COGS ini gambarannya seperti neraca timbangan, semakin tinggi penjualan,  maka prosentase COGS semakin rendah. Bila tidak, berarti ada yang tidak beres dalam perumusan harga, atau ada yang waste/lost. Kesimpulannya prosentase COGS terhadap SALES harus ditekan sebisa mungkin.

Biaya Energi (Utility Cost)
Biasanya ini meliputi listrik, air, dan gas. Terapkan prinsip “OFF as You Go”. Matikan listrik atau lampu, dan gadget saat tidak diperlukan. Maksimalkan penggunaan ruang dining berdasarkan kebutuhan saja. Bila normalnya resto buka semua ruangan, maka kondisi saat ini buka satu saja area dining. Ini bisa menghemat listrik, life time lampu lebih panjang, hemat biaya cleaning (detergen, chemical), dan sumberdaya manusia. 

Ruang pendingin juga bisa dikontrol. Order stock secukupnya dan simpan kedalam freezer yang sesuai ukuran versus kebutuhan. Bersihkan, keringkan dan matikan listriknya bila tidak digunakan. Maksimalkan penggunaan freezer dan chiller. Bila bisa satu atau dua unit saja, kenapa harus nyala semua.

Penggunaan alat-alat listrik juga bisa diganti dengan manual. Toh keadaan sedang sepi dan karyawan ada waktu cukup. Hal ini juga bertujuan meningkatkan skill para juru masak. Alat2 apa saja? Blender, Slicer, Meat Mincer bisa diganti manual dengan skill para cook/chef. Vacum cleaner bisa diganti dengan menyapu manual. Iklim juga masih musim hujan, menyiram tanaman secukupnya saja.

Sumberdaya Manusia (Manpower)
Aspek ini adalah salah satu yang paling krusial dan sensitif. Di satu sisi usaha sedang sepi, namun karyawan harus tetap digaji. Opsi mem-PHK jelaslah bukan pilihan enak. Merumahkan mereka juga kurang wise. Sementara bila tetap bekerja, perusahaan harus menggaji dan uang gaji dari mana? Tetap masuk bekerja normal tapi gaji setengah saja juga kurang manusiawi. Lalu bagaimana?

Sebenarnya semua opsi diatas bisa saja dipilih, dan sebagai pengusaha tentunya tidak bisa disalahkan karena keadaan sedang force majeur. Namun perlu diingat, bahwa associate (karyawan) bukan sekadar asset yang paling utama. Lebih dari itu. Disaat pagebluk seperti ini, sudah semestinya perusahaan memberikan perhatian yang lebih, karena pada setiap karyawan ada keluarga yang harus ditopang dan dinafkahi.

Opsi kerja bergilir mungkin jadi solusi. Jadi, perusahaan tidak mem-PHK tapi memberikan kesempatan bekerja secara rotasi berdasarkan shift dan kebutuhan. Karyawan tetap berhak bekerja namun tidak full setiap hari dalam seminggu. Tentunya, gaji yang diterima berdasarkan kehadiran, plus tunjangan dasar lainnya. Perusahaan juga tidak menolak bila ada karyawan yang ingin “istirahat panjang” saat PSBB dan bisa kembali bekerja bila keadaan normal.

Dalam hal ke-HR-an ini, komunikasi menerus untuk memberikan pemahaman dan pengertian kepada segenap karyawan menjadi hal yang KRUSIAL. Jangan bosan-bosan melakukan motivasi, konseling dan pendekatan kepada associates. Dengarkan mereka dan sebisa mungkin penuhi hak dan permintaan dasarnya. Saya rasa mereka juga bisa mengerti kondisi saat ini.


Perubahan Perilaku Pelanggan dan Upaya Survive Usaha Resto
Adaptasi, inovasi dan kreasi, tiga hal ini yang membuat usaha kuliner bisa bertahan di jaman sulit ini. Kondisi sedang berubah, market sedang bergeser, perilaku konsumen juga berubah. Untuk bisa bertahan, tidak ada cara lain kecuali berADAPTASI.

Pengusaha tidak bisa diam saja dan mengandalkan mukjizat dari langit atau menunggu WHO meluncurkan vaksin corona setahun lagi. Produk harus dikreasi, layanan harus dimodifikasi, harga harus bersaing, dan semangat harus tetap membara (meminjam stilah Barapi Meat & Grill).

Yang jelas, perilaku pelanggan mengalami perubahan. Saat ini mereka lebih berhati-hati dalam konsumsi makanan/jajanan. Pelanggan sedang sensitif, bahkan paranoid. Mereka tidak mudah percaya dengan kualitas dan kebersihan menu/makanan. Kini mereka tidak saja menuntut kelezatan, tapi juga keamanan pangan, steril & hygiene. Bukan sekadar bersih. Baik dari menu itu sendiri, para juru masak, aspek packaging hingga pengantarnya (driver). Semua harus hyigine. Ini berarti, usaha kuliner harus kerja extra keras untuk bisa mengimbangi tuntutan ini, dan mungkin kelak, semua aspek ini tidak hanya jadi sekadar trend, justru bakal menjadi “kebutuhan wajib” setiap usaha/jasa kuliner.

Hal lain yang krusial adalah HARGA. Dulu orang bela-belain makan di resto mewah demi menjaga prestige. Dewasa ini, jumlah golongan ini makin sedikit. Apalagi jaman krisis seperti ini. Prinsip mereka, hidangan kelas gourmet kalau bisa dinikmati dengan harga kaki lima. “Apalagi dimakan #dirumahaja, kok.”

Hari gini usaha resto mahal tidak akan laku. Orang makin smart. Terlebih krisis ekonomi membuat daya beli lumayan turun. Buktinya semua orang menahan diri belanja dan banyak resto jor-joran pasang diskon. Jadi, produk makanan Anda tidak boleh mahal, tapi juga jangan murahan. Tetaplah di kualitas dengan harga pantas. Bahasa kerennya “best value for money”.

Selain faktor hygiene dan harga, perilaku “cara membeli” dan “cara menikmati” produk juga berubah. Menikmati hidangan lezat nan mahal setaraf steak,kini tidak harus di dalam area dining suatu resto. Sup ayam jamur yang creamy atau pasta italia yang otentik, gurih, lezat dan instagramable harus bisa dinikmati #dirumahsaja. Harus tetap fresh, higienis dan lezat. Pelanggan tidak perlu keluar rumah/kantor, cukup jari dan koneksi internet yang menjalankan dan mitra #driverojol  yang hantarkan. Harus cepat, dan tetap nikmat. Tidak mahal.! (bukan murahan, loh).

Maka pengusaha boga kini makin dituntut GOING DIGITAL dan bermitra dengan semua pihak yang bisa mendukung tema besar bertajuk “safe & hygine food delivery” hingga ke meja makan pelanggan.

Kreasi Menu/Produk/Layanan Baru
Seiring dengan perilaku pelanggan yang berubah, beberapa brand restoran kini juga menawarkan menu baru yang lebih “nyaman & aman” dinikmati #diRumahAja (atau #diRumahKontrakanAja). Menu “Ready to Cook” salah satunya. Semua menunya masih mentah, harus dimasak dulu mengikuti instruksi yang tertera di label. Packagingnya sangat higienis. Kebanyakan menu frozen, namun ada juga yang chill.

Beberapa rumah makan juga ada yang menawarkan menu setengah matang dan bisa dimatangkan sempurna hanya dengan menggunakan microwave atau dengan cara numpang kukus sembari menanak nasi. Ada juga yang menyediakan menu matang tapi dibuat frozen dan pelanggan tinggal menghangatkan saja di rumah. Bisa simpan dulu dan dikonsumsi kapan saja sesuai kebutuhan.

Sembari menulis artikel ini, saya juga mencari-cari ide kreatif lainnya untuk bisa memberikan solusi atas problem atau kendala pelanggan dalam memenuhi kebutuhan kuliner mereka di masa pandemic ini. Bila Anda punya ide, silahkan bantu saya dengan menuliskan di kolom komentar. Thank you for that.

Kejarlah Pelanggan dan Dapatkan Perhatian Mereka
Lalu bagaimana menjangkau para pelanggan tsesebut? Nah, tim marketing communication lah yang bekerja. Anggarkan budget, risetlah segmennya, dan bidiklah target yang disasar. Cari tahu dimana saja biasanya mereka “nongkrong” atau “ngerumpi”. Karena musim pandemi, kesimpulan awal mereka seringnya “nongki2” di grup WA dan di depan Android/Os/gadget. Gak jauh2 dari itu. Spesifiknya, yang mereka “pantengi” pastilah tak jauh dari sosmed dan kanal berita online. Itu saja,fokus disitu, tinggal digempur secara UNIK dan KREATIF mengenai info “keunggulan” produk/layanan kita plus “differensiasi-nya”.  Sampaikan dengan bahasa yang sesuai segmen yang disasar (targetted market). Lakukan terus menerus, pasti akhirnya kena.

Di penghujung diskusi ini, saya berpesan untuk memastikan produk/layanan yang sampai di rumah itu bisa membuat pelanggan WOW. Melebihi ekspektasi mereka. Itu tidak mudah. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari lini suplai dan bahan baku yang selalu fresh dan konsisten, skilled labour, operasional yang disiplin pada SOP, mutu produk yang selalu prima, delivery yang cepat dan harga yang sesuai.

Wassalam. Semoga bermanfaat. Ayo bangkit lawan Corona dan tetaplah berwirausaha!

*) Penulis adalah mantan aktivis Persma lulusan Program Studi D4 Pariwisata Udayana University Bali, ex Hotelier, pernah jadi TKI, kini menekuni usaha kuliner/resto, founder Barapi Meat & Grill, BarBurGer, Warsito, dan investor-operator brand dBestO Chicken & Burger.

Tuesday, April 2, 2013

3 Miracle Skills yang Dikuasai Setiap Orang Tersukses

Oleh Coach Yudhi

Setiap orang pasti menginginkan kesuksesan, namun hanya 20% manusia saja yang berhasil mendapatkan kesuksesan seperti yang mereka inginkan. 80% orang yang hanya menginginkan kesuksesan tidak mengenal pola kesuksesan. Benar, POLA KESUKSESAN. Setiap hal di dunia ini memiliki pola, begitupun dengan kesuksesan.

NLP merupakan tool yang paling efektif digunakan untuk membedah pola kesuksesan. Dalam membedah pola kesuksesan berbasis NLP, ditemukan bahwa semua orang yang sukses menguasai 3 Miracle Skills yang melejitkan mereka menuju kesuksesan mereka.

Skill #1. Networking
Pada tahun 1960an, seorang Psikolog bernama Stanley Milgram melakukan eksperimen menarik mengenai networking. Sekitar 160 orang di Nebraska diberikan paket untuk diberikan kepada Pialang Saham di Massachutes. Hasillnya, semua paket tersebut berhasil sampai pada target yang diminta. Setelah itu, dilakukan tracking dan didapatkan pola bahwa untuk mencapai ke target tersebut, maka setiap orang akan menghadapi 6 orang yang membuatnya sampai ditarget tersebut. Inilah yang disebut “Six Degrees Separation”

Media facebook saat ini mendukung teori “Six Degrees Separation”. Untuk berkenalan dengan selebritis atau tokoh popular maka anda hanya membutuhkan paling banyak 6 orang yang akan mempertemukan anda dengan orang tersebut.

Skill #2. Selling
Banyak orang menganggap ketika seseorang tidak bekerja langsung di bidang selling maka skill ini tidak mereka butuhkan. Ini adalah pemahaman yang salah. Apapun pekerjaan anda, maka tidak akan terlepas dari skill selling.

Orang yang menguasai skill selling secara baik memiliki kemampuan untuk membagikan ide dan pemikiran nya kepada atasan nya, rekan nya secara elegant. Menguasai skill ini adalah hal mutlak bagi setiap individu yang menginginkan kesuksesan hidup

Skill #3. Public Speaking
Anda pasti tahu, berbicara di depan umum lebih menakutkan dibandingkan dengan kematian. Ini adalah hasil penelitian mengenai ketakutan yang dihadapi manusia. Berbicara di depan umum atau Public Speaking merupakan kemampuan yang mendukung kesuksesan anda. Kemampuan anda berbicara di depan umum membantu anda membangun personal branding.

Kemampuan Public Speaking yang baik adalah ketika anda mampu berbicara di depan umum menggunakan komunikasi yang kongruen antara tubuh dan kata-kata yang anda ucapkan. Untuk itu dibutuhkan keterampilan NLP yang mendukung menghasilkan public speaking skill yang efektif.
 
Coach Yudhi adalah #1 Miracle Life Coach di Asia, follow twitternya di @coachyudhi

Wednesday, March 27, 2013

Perusahaan Yang Baik dan Karyawan Yang Baik

Oleh: Dadang Kadarusman
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Apa kabar kantor Anda? Yaaa, biasa aja sih ya. Tidak ada yang istimewa. Kan segala sesuatunya berjalan seperti biasanya. Setiap hari, ya begitu itulah kantor kita. Sekalipun begitu, coba sesekali Anda deskripsikan keadaan kantor lebih dari sekedar ‘biasa aja sih’. Soalnya, bisa jadi ada sesuatu yang kurang pas disana. Hanya saja kita selama ini tidak terlampau mempedulikannya. Atau, mungkin ada hal-hal yang bisa kita perbaiki. Tapi, karena kita menganggapnya lumrah ya sudah deh; dibiarkan begitu saja. Emangnya kenapa kalau kita biarkan? Soalnya, kantor merupakan tempat yang paling lama ‘menampung’ kita. Bukan soal bisa bosan dengan keadaan begitu terus. Tapi, suasana kantor yang buruk, akan berbahya juga bagi kita. Justru kitalah yang rugi, jika tidak peduli kepada kondisi di kantor kita. Kalau ada hal yang buruk, mesti kita perbaiki. Emangnya kalau kita cuekkin aja kenapa? Yang penting kan kerjaan gue beres.
 
Lelaki mungil kami tengah mempersiapkan materi presentasinya di sekolah. Dan katanya, mesti di print warna. Sebenarnya kami punya printer warna. Tapi sudah lama tidak digunakan. Selain mungkin tintanya sudah mengering, dicari-cari juga tidak berhasil kami temukan keberadaannya. Biasalah, kalau sedang tidak butuh; kita gemar mengabaikan sesuatu. Kita baru pusing mencarinya saat membutuhkannya. Setelah usaha menemukan printer warna itu gagal, maka pilihan paling mudah berikutnya adalah mencetak file itu di tempat fotokopian yang berada tidak jauh dari tempat tinggal kami. Ada layanan cetak warna disana. Jadi, mestinya tidak ada masalah. Hanya dalam beberapa menit saja, semuanya sudah selesai.
 
Masalah sebenarnya baru ketahuan ketika saya kembali bekerja. Setiap kali akan melakukan training, saya berupaya membawa salinan file presentasi dalam flash disc sebagai back-up. Untuk sekedar berjaga-jaga saja kalau-kalau terjadi sesuatu dengan laptop saya. Kan tidak lucu kalau alat bantu audio-visual yang sudah disiapkan ternyata tidak bisa digunakan dalam training itu. Maka saya pun bersiap meng-copy file itu ke flash disc. Niat itu urung karena, sekarang dilayar laptop saya muncul dialog box yang memberikan  peringatan bahwa fash disc saya terkena virus. Tidak usah merunut lagi dimana virus itu didapat. Tempat fotokpian yang menyediakan jasa print warna itu. Dimana lagi kan?
 
Flash disk itu, jarang sekali digunakan dikomputer lain selain milik kami di rumah yang sudah terjamin kebersihannya. Tidak pernah terinfeksi virus apapun selama ini. Meskipun sudah ratusan kali bolak balik digunakan. Tapi hanya perlu satu kali berinteraksi dengan computer bervirus di fotokopian itu, dan terinfeksilah dia. Kelihatannya sih, semudah itu jugalah lingkungan yang buruk membuat diri kita juga menjadi buruk. Lingkungan kerja yang buruk, bisa membuat diri kita berubah menjadi pribadi yang buruk loh. Beneran.
 
Tidak perlu bolak balik ke ruangan yang penuh dengan asap untuk menjadikan tubuh kita berbau asap, bukan? Tidak perlu berkali-kali masuk ke ruangan berdebu, untuk membuat tubuh kita juga berdebu. Sekali saja masuk kesitu, maka kita akan kebagian bau dan debunya. Sekarang, bayangkan jika di kantor yang setiap hari kita menghabiskan waktu 8 jam itu kondisinya buruk. Bisa dibayangkan betapa banyak pengaruh buruk yang bisa masuk kedalam diri kita kan?
 
Kita baru berbicara tentang hal-hal yang sifatnya fisik. Seperti debu, suasana yang sumpek, berantakan, dan hal-hal semacam itu. Meskipun pengaruhnya tidak bisa disepelekan, namun ada aspek lain yang jauh lebih merugikan. Yaitu, kondisi non fisik yang buruk. Jika di kantor Anda terlampau banyak intrik. Interaksi tidak sehat antar satu orang dengan lainnya. Atau terbentuknya ‘klan-klan’ fanatik departemen atau boss-nya, misalnya. Atau mungkin juga ada perilaku buruk dari orang-orang yang dominan. Maka kondisi itu sangat besar pengaruhnya kepada diri kita. Anda lebih cepat merasa lelah kan kalau bekerja dalam suasana yang penuh tekanan? Maka kita semua punya kepentingan yang sama untuk memastikan bahwa kantor kita bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Supaya tidak menginfeksi kita dengan suasana atau pengaruh-pengaruh yang buruk. Kan nggak seru juga kalau bête di kantor menempel ikut kita sampai ke rumah seperti virus yang dibawa pulang melalui flash disc itu.
 
System anti virus di computer saya memperingatkan bahwa flash disc itu harus segera dibersihkan. Jika tidak, maka dia akan menginfeksi computer lainnya. Ternyata sumber infeksi itu tidak hanya dari computer ke flash disc. Bisa sebaliknya juga. Di kantor juga begitu. Infeksi nilai-nilai atau sikap yang buruk itu tidak selalu datang dari lingkungan kepada individu-individu, melainkan juga sebaliknya. Suasana kantor yang menyenangkan bisa berubah menjadi buruk ketika ada orang-orang tertentu yang membuat keruh suasana kan? Itu artinya, kita sendiri pun bisa menginfeksi lingkungan kerja kita dengan sikap dan perilaku buruk kita. Maka jika kita ingin gembira, bahagia, dan senang hati selama bekerja di kantor; kita mesti menjaga suasana kantor tetap baik. Dengan cara, kita sendiri berperilaku baik. Karena setiap perilaku buruk kita akan menginfeksi lingkungan kerja kita seperti flash disc kotor yang bisa menginfeksi computer yang masih bersih.
 
Saya kan cuman anak buah. Bisa apa saya untuk membuat suasana kantor menjadi menyenangkan? Hey, setiap orang bisa berkontribusi loh. Kita bisa melakukan hal-hal sederhana. Cukup dengan perilaku kerja kita saja dulu misalnya. Memasang wajah yang ramah selama di kantor. Menghargai orang lain. Fokus kepada solusi, kalau menghadapi masalah dengan teman kerja. Hal-hal semudah itu saja dulu. Mungkin Anda menganggap ini hal sepele. Tapi percayalah, sikap baik Anda yang sederhana itu akan memberi warna yang indah dikantor Anda. Kepada orang baik, orang lain pun akan bersikap baik. Bahkan orang yang perilakunya jelek pun, sering bersikap baik kepada orang yang baik.
 
Sekalipun begitu, ada teman saya yang mengatakan bahwa dia sudah melakukan apapun yang terbaik untuk kantornya. Tapi suasana disana sudah sedemikian parahnya sehingga tidak ada yang bisa mengubahnya. Harapan itu sirna karena katanya, semua boss pun tidak peduli. Malahan sikap mereka kepada karyawan pun buruk sekali. Mana bisa karyawan yang diperlakukan buruk berkontribusi untuk kebaikan perusahaan? Begitu katanya. Menurut pendapat Anda, apa yang mesti dilakukan oleh teman kita yang berada di lingkungan kerja yang sudah ‘tidak bisa diselamatkan lagi’ itu?
 
Kepada anak-anak, saya mengatakan; “mulai saat ini, kita tidak usah menggunakan flash disc kita di tempat sembarangan ya…” saya mengatakan itu ketika kami melintasi tempat cetak warna itu. “Tapi kan kita perlu Yah….” Jawab anak-anak. Saya bilang, kita mesti datang ke tempat yang sudah dipastikan baik. Tidak mengandung virus-virus yang membahayakan buat flash disc kita. Soalnya, bahaya buat semua computer kita di rumah.
 
Seperti di kantor juga ya. Kita sering merasa kita sangat butuh. Sehingga pasrah saja untuk keluar masuk kantor itu. Boleh saja, jika efek nilai-nilai atau suasana buruk itu masih bisa Anda tolelir. Artinya, Anda tidak terpengaruh oleh cara berpikir, cara bersikap, dan cara kerja yang buruk. Ini buktinya, orang yang baik terlalu lama bekerja di kantor yang suasana kerjanya buruk. Kurang saling menghargai satu sama lain. Atau kerjanya pada lelet. Tahukah Anda, apa yang terjadi pada orang baik itu? Dia jadi ikutan lelet juga tuch. Ikut tidak peduli kepada orang lain. Dan ikutan cuek saja kalau ada sesuatu yang kurang pas terjadi disana. Saya, sudah cukup sering melihat suasana seperti itu. Dan Anda pun mungkin sering menyaksikan sutuasi seperti itu. Artinya, orang baik itu sudah ikut terinfeksi juga kan?
 
Anda, sanggup nggak untuk tetap terjaga baik kalau berada terus di kantor yang punya suasana kerja buruk itu? Jika sanggup tetap baik, stay there juga nggak apa-apa. Tapi kalau Anda tidak yakin bisa tetap menjadi pribadi yang baik; maka sebaiknya Anda start searching for a better place. Tapi kan susah banget cari kerjaan zaman sekarang? Mungkin dalam hati Anda ada keraguan itu. Anda betul. Susah mencari kerja zaman sekarang. Untuk orang-orang yang tidak memiliki keunggulan. Kalau Anda punya keunggulan. Punya kualitas pribadi yang baik. Punya keterampilan kerja yang bagus. Punya kegigihan, keuletan, kedisiplinan dan nilai tambah lainnya. Maka pekerjaan itu tidak sulit untuk ditemukan. Carilah tempat yang lebih baik, yang bisa menjadikan Anda pribadi yang tetap baik. Insya Allah, akan Anda temukan.
 
Bagaimana jika Anda tidak memiliki semua keunggulan yang saya sebutkan diatas itu? Gampang. Mulai sekarang, Anda bangun keunggulan pribadi itu. Supaya dalam satu atau dua tahun kedepan, Anda bisa membebaskan diri dari lingkungan kerja yang buruk. Saya memprovokasi Anda? Tidak. Saya justru mengajak Anda untuk tinggal, dan terus mengabdikan diri di perusahaan yang baik. Stay in a good company my friend. Karena di perusahaan yang baik, Anda akan terus disirami dengan nilai-nilai yang baik. Dan karena Anda orang yang baik, maka Anda bisa berkontribusi untuk menjadikan perusahaan Anda yang sudah baik itu untuk menjadi tempat kerja yang lebih baik lagi. Supaya kelak, kita bisa mewujudkan mimpi kita tentang menciptakan the best place to work for itu. Yaitu tempat terbaik, untuk membangun karir. Dan untuk itu, perusahaan baik membutuhkan orang-orang baik seperti Anda. So, start to build you personal excellence. Karena banyak perusahaan baik yang membutuhkan Anda.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 25 Maret 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Perusahaan yang baik hanya cocok untuk orang-orang yang baik. Sama seperti halnya orang-orang yang baik hanya cocok untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang baik.
 
Ingin mendapatkan kiriman artikel “P (=Personalism)” secara rutin langsung dari Dadang Kadarusman?  Kunjungi dan bergabung dihttp://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/
 
Silakan teruskan kepada orang lain jika Anda nilai artikel ini bermanfaat. Dan tetaplah mengingat bahwa; Anda tidak perlu mengklaim sesuatu yang bukan karya tulis Anda sendiri. Meskipun Anda sudah berbuat baik, namun Tuhan; belum tentu suka tindakan itu (Natin & The Cubicle).

Sebaik-baik Karyawan Itu...

Oleh: Dadang Kadarusman
 
Hore!
Hari Baru, Teman-teman.
 
Di kantor Anda suka ada penobatan ‘employee of the year’, of the month, atau of the week? Atau semacam itulah kira-kira ya? Mungkin juga kantor Anda tidak biasa memberikan penghargaan seperti itu ya? Tetapi, saya yakin Anda pernah mendengar istilah-istilah itu, untuk menyebut seseorang sebagai ‘karyawan teladan’. Menurut pendapat Anda, apakah seseorang yang diumumkan menjadi karyawan terbaik itu memang benar-benar yang terbaik atau tidak? Mestinya memang begitu kan. Tetapi, boleh jadi; ada karyawan lain yang benar-benar yang terbaik. Sekalipun tidak pernah mendapat gelar sebagai ‘yang terbaik’ di perusahaan.
 
Dalam sebuah pertemuan tahunan suatu perusahaan, beberapa orang naik ke panggung untuk mendapatkan penghargaan dan bonus-bonus khusus atas prestasi dan pencapaiannya. Yang naik ke panggung semua senang. Namun orang-orang yang tetap duduk di kursi tidak semuanya senang. Ada saja yang berbisik; ‘orang kayak gitu kok disebut karyawan teladan…’ ada juga yang bilang begini;”halah, gue tahulah cara kerja dia yang sebenarnya…” Atau kalimat-kalimat bernada miring lainnya.
 
Itu menunjukkan bahwa penilaian tentang keteladanan dan kebaikan seseorang itu sering bersifat nisbi. Seseorang yang dianggap baik oleh seseorang, mungkin dianggap buruk oleh orang lainnya. Tetapi ada juga orang yang dianggap baik tanpa di pertanyakan oleh siapapun. Tentu, itu adalah orang yang memang bisa berbuat baik dalam segala situasi. Bisa kita sebut sebagai ‘sebaik-baiknya karyawan’. Apa sih kriteria sebaik-baik karyawan itu?
 
Kemarin sore di after office hour, saya mengirim pesan broadcast kepada teman-teman yang terhubung dengan BB saya. Begini bunyi pesan itu:
 
Bekerja itu, jelas untuk mendapatkan nafkah bagi keluarga kita. Tapi bekerja juga bisa memberikan hasil yang lebih dari sekedar perolehan nafkah itu; jika selama bekerja, kita bisa memberi manfaat kepada orang lain.
 
Sahabatku, manfaat apakah yang Anda berikan bagi orang lain ketika Anda bekerja seharian tadi?  Jika belum, mari kita lakukan besok pagi ya…. Insya Allah kita bisa meraih lebih dari sekedar rupiah….
 
Besok paginya kemarin itu kan pagi ini ya? Maka pagi ini saya ingin berpesan kepada semua sahabat saya di BB dan dimana saja, agar meniatkan pergi bekerja itu untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan bagi mereka. Sebab kriteria utama karyawan yang sebaik-baiknya itu sungguh sangat sederhana. Yaitu; menjadi karyawan yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain. Ya sesederhana itu. Kriteria itu sejalan dengan nasihat berusia 1500 tahun dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda; “Sebaik-baik manusia adalah, yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.
 
Maka sahabatku, bekerja itu bukanlah semata-mata mencari uang. Kita butuh uang, tentu saja. Namun lebih dari itu, bekerja adalah untuk menjadi insan yang terbaik; melalui pekerjaan kita. Dengan cara mendedikasikan seluruh tindakan kita selama bekerja itu, untuk kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Dengan cara itu, kita bisa menjadi karyawan terbaik yang sesungguhnya. Jika kita dipanggil keatas panggung, maka tak seorang pun mempertanyakan; kenapa kita dinobatkan sebagai karyawan terbaik. Jika pun tidak berkesempatan naik ke panggung elit itu, tenang saja. Karena kita tetap menjadi karyawan terbaik dimata semua orang yang pernah kita layani dengan baik. Dan terutama, kita menjadi pribadi terbaik; dihadapan Tuhan Yang Maha Baik
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman – 27 Maret 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker
DK: 0812 19899 737 or Ms. Vivi at 0812 1040 3327
PIN BB DeKa : 2A495F1D
 
Catatan Kaki:
Bukan jabatan atau angka-angka yang menjadikan kita karyawan terbaik. Melainkan manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain melalui pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Sunday, March 3, 2013

PR/Marcom Guys with Journo background

Found this great opinion article about tips on what make PR guys pro. Check it out...


This former journalist (hint, hint) posits four reasons that experience trumps a degree. Do you agree?


In my experience, I've found that the most successful PR people are those who think and act like reporters.
Anyone in sales will tell you that you have to know your customer base. For those of us who toil pitching stories to reporters, it certainly helps—and may be imperative—to have the journalistic background that tells how to define a story, write it and present it. PR is sales, and reporters are the customers.

Saturday, March 2, 2013

Training tentang Karakter bagi bisnis, karir dan masa depan

"KARAKTER MENENTUKAN MASA DEPAN"
"Barang siapa bisa memberikan produk dengan KUALITAS yang diinginkan customer, di SAAT yang ditentukan customer dengan HARGA yang sanggup dibayar oleh customer dia akan MEMONOPOLI PASAR."
Menjadi efektif dan pandai menjalin hubungan. Untuk menjadi yang efektif maka kita perlu memaksimalkan ketrampilan relationship kita. Sering kali kita dibuat kewalahan karena ketidakcocokan apa yang dikerjakan team kita dengan apa yang diminta. Sering kali juga ketika mengalamai hal tersebut maka diberikan kembali ke bagian HRD untuk ditangani. Bukankah hal itu begitu menyusahkan?
Bukan hanya itu saja sering kali kita juga kurang mengerti bagaimana membangun relationship dengan orang lain. Sering kali juga seorang "Pemimpin" memaksakan gayanya untuk mengendalikan orang lain.
Karakter pemimpin adalah milik semua orang, kepemimpinan berbicara karakter dan tanpa karakter yang kuat maka organisasi tidak mungkin bisa bertumbuh pesat. Tanpa karakter yang kuat maka regenerasi akan terhambat.
Karakter bisa dibentuk, karakter memang bawaan lahir tetapi bisa dibentuk untuk menjadi yang lebih baik. Tidak ada karakter yang jelek yang ada adalah pembentukan yang salah. Siapapun diri kita, apapun jabatan posisi kita di tempat kerja mempunyai karakter yang bisa dibentuk. Siapapun customer kita, kita bisa mendekati dengan cara yang benar melalui pembentukan karakter diri kita terlebih dahulu.
Karakter menentukan masa depan kita, mulailah belajar membentuk karakter. Workshop ini akan mempelajari: 1. People Skills Overview - Model Pikiran-Perkataan-Perbuatan - Lima Pertanyaan Self Assessment - Karakteristik Pemenang - Kelebihan dari Winning With People
2. Hal-Hal yang Kita Pikirkan
    - Prinsip Lensa
    - Kepemimpinan yang melayani
    - Preferensi Hubungan Pribadi
3. Hal-Hal yang Kita Katakan dan Dengar
    - Hambatan untuk Mendengarkan
    - People Profiling
    - Cara Mendengarkan
    - Demonstrasi Kemampuan Mendengarkan
4. Hal-Hal yang Kita Lakukan
    - Percakapan Rutin
    - Overview Percakapan yang Menarik
    - Bahasa Tubuh
    - Mengidentifikasi Percakapan yang Menarik
    - Mengenali Response Pribadi
    - Menunjukkan Respon Jalan Mendaki

Adapun sekilas info kegiatan workshop yang kami adakan:

Tanggal
16 - 17 Maret 2013

Jam Pelaksanaan
08.30 s/d 17.30 WIB

Tempat
Hotel Santika Jemursari.
Jl. Jemursari 258. Surabaya.

Pembicara / Fasilitator
Coach Bani Firdaus Ir,
Bani sebagai coach Anda akan bekerjasama dengan Anda di lima SMART? key area dalam bisnis. Penekanan dan pentingnya setiap bidang tergantung pada kebutuhan, jenis usaha dan goal yang Anda miliki. 
5 SMART? Development area coaching dan training meliputi: Customer Service, Waste Reduction, People development, Sales, Continuous Improvement, Marketing and Advertising, Profit, Leadership and Business Planning. 
Sebagai seorang coach, Bani akan menjadi teman yang bisa menjaga kedisiplinan dan akan mengatakan tidak jika tidak dan ya jika ya yang berguna untuk kesuksesan Anda. Dia adalah coach yang berpengalaman dan seorang praktisi bisnis yang handal dan berprestai. Coach Bani bersertifikat dari John C. Maxwell, Master NLP, Hypnotherapy dan banyak Sertifikat lainnya.

Investasi
Rp. 3.500.000/orang (dua hari)
Early Bird I. Rp.1.750.000,- (khuus 10 orang pendaftar pertama atau pendaftaran s/d tanggal 5 Maret 2013.)
Early Bird II. Rp. 2.250.000/ orang (dua hari) Bagi pendaftar ke 11 s/d 20 atau tanggal 6 Maret 2013 s/d 12 Maret 2013.
Untuk Pendaftaran DP Minimal Rp.500.000.

Nilai tersebut sudah mencakup:
• Cofee Break x2 dan Lunch
• Participant Guide
• Sertifikat by John C. Maxwell (Worlds#1 Leadership Guru)
• Free coaching atau konsultasi senilai Rp.25.000.000(dua puluh lima belas juta rupiah) selama 2 bulan per peserta terhitung sejak berakhirnya workshop.

Di akhir hari pertama, peserta mendapatkan tugas untuk dikumpulkan
keesokan harinya. Di akhir hari kedua, peserta wajib mengikuti test kelulusan.

Bobot Penilaian:
- Class Attendance                 10%
- Home Fun (homework)         40%
- Final Exam close book          50%

Batas nilai kelulusan adalah 75.
sertifikat ditandatangani John C.Maxwell (Worlds#1 Leadership Guru)

Peserta kami batasi maksimum 20 orang supaya lebih banyak bertanya dan lebih fokus.

Wajib diikuti oleh
Praktisi Bisnis, Pimpinan Perusahaan, HRD, Marketing, Guru, Dosen dan siapa saja yang ingin meningkatkan komunikasi dan Relasi dalam Profesi maupun pribadi.

HUBUNGI Sekarang:
ProActive Solution Partner
Jl. Krukah Timur 45 Surabaya 60284
Telp     : 031-7288 0777, 031-5047 346
Fax      : 031-5045 255
Mobile   : 0815 1508 0777, 0858 5274 6288
E-mail   : info@proactive-1st.com
Website  : www.proactive-1st.com

Saturday, January 19, 2013

15.000 VS 30.000, Mana Yang Lebih Laris?


Oleh:
Hendrik Ronald

Sumber:
http://www.hendrikronald.com/artikel/service-excellence/15-000-vs-30-000-mana-yang-lebih-laris/

Ah, saat liburan tentu saja kadang-kadang saya jalan-jalan ke mal dengan anak-anak. Di sebuah mal di kota saya, ada fenomena menarik. Pas di gerbang utamanya, ada dua restoran fast food yang langsung berhadap-hadapan. Benar-benar pas di samping gerbang utama. Satu di kanan, satunya di kiri.

Yang lebih menariknya, sudah tau berhadap-hadapan, resto di sebelah kiri dengan pedenya pasang promo yang mahal. Paketnya seharga Rp.30.000. Paket yang murah justru diletak di bagian bawah. Seolah-olah gak pengen pembeli tau bahwa mereka juga punya paket yang murah. Paket yang murah justru diumpetin.

Resto di sebelah kanan tentu saja memakai cara yang beda banget. Mereka promo paket cuma Rp.15.000. Harganya sudah bisa saingan dengan nasi padang deh! Paket yang mahal-mahal diletakin di bagian bawah, sehingga orang-orang akan merasa bahwa si resto di sebelah kanan ini murah banget!!

Keduanya adalah jenis resto yang sama, dengan fasilitas yang sama pula!

Ini seolah-olah membenarkan pertanyaan yang suka diajukan ke saya. Pertanyaan yang ditanyakan di banyak daerah,  “Pak Ronald, kalau di daerah kami itu, bapak tau sendiri deh. Price sensitive banget. Harganya naik dikit aja orang langsung kabur.” Pertanyaan yang selalu saya jawab dengan, “Oh ya?”

Fenomena yang sama terjadi juga dengan dunia taxi di Jakarta. Taxi di Jakarta itu berserakan di mana-mana. Karena saking kerasnya persaingan, banyak dari mereka yang langsung mau mencoba ngertiin customer. Customer yang katanya price sensitive.

Mereka pasang sticker, “Tarif Bawah”. Dengan harapan customer akan bahagia dan berbondong-bondong langsung naik. Apa betul begitu? Si raja taxi Jakarta malah seolah tidak perduli. Si biru ini tetap saja melenggang santai dengan harganya. Anehnya, mereka malah tetap diburu penumpang! Yang pasang "Tarif Bawah"? Anda tau sendiri apa yang terjadi.

Kembali ke resto seafood di atas. Ternyata si raja paket murah yang cuma jual 15.000 itu, isinya kosong melompong. Gak ada yang makan di situ. Sedangkan si mahal malah ramai gak karu-karuan. Jadi apa strategi harus jual murah itu sebenarnya betul?

Apa benar customer itu sangat price sensitive? Apa benar untuk bersaing itu harus perang harga? Banyak manager ketika mempunyai barang yang mirip dengan yang di pasaran, mereka merasa tidak ada pilihan lain. Mereka merasa harga murah adalah marketing tools terbaik. Mereka kudu, wajib, gak ada pilihan lain, harus jual lebih murah!

Padahal saat kita potong harga, kita juga harus potong cost. Kalau sudah potong cost, artinya eksekusi kita di banyak bidang jadi melemah. Tentu saja kalau kita masih memilih jalan ini, jalan yang diambil oleh orang kebanyakan. Nasib kita akan seperti orang kebanyakan. Betul?

Padahal ada jalan lain. Ada jalan yang ditempuh para raja. Mereka menempuh jalan membangun budaya yang kuat. Budaya service yang kuat. Mereka melenggang santai menjual janji dan reputasi. Janji akan product yang bagus dan service yang excellent.

Namun itu semua tidak akan pernah tercapai bila anda mau mengambil jalan pintas, malah memilih perang harga. Sekarang pertanyaannya, maukah Anda membangun budaya?

Salam Dahsyat!!
Hendrik Ronald
Authorized TDW Master Trainer - Service Excellence Coach & Trainer
www.HendrikRonald.com Twitter: @HendrikRonald

Wednesday, January 16, 2013

In Asia-Pacific, Social Media Inspires Travelers

Travelers in the region rely heavily on internet reviews for travel decision-making

For leisure travelers in Asia-Pacific, online peer influence is at the forefront of planning. According to Text100’s “Digital Index: Travel & Tourism” study, conducted by Redshift Research in October 2012, 44% of Asia-Pacific leisure travelers used social media platforms for advice and inspiration regarding travel destinations—more than double the percentage who did the same in the US and EMEA. More than one-third of these travelers also looked to social media to get ideas for attractions, vacation activities and hotels.

Read more at http://www.emarketer.com or the following link:

http://www.emarketer.com/Article/Asia-Pacific-Social-Media-Inspires-Travelers/1009605#PDCl1mjmMe7WBpwZ.03

Sunday, January 13, 2013

Persiapkan Diri Songsong Tahun Baru

Success always comes when preparation meets opportunity. (Henry Hartman)
Oleh Dedy Budiman M.Pd

Tahun Baru merupakan moment yang istimewa untuk orang sales, karena pada awal tahun perusahaan akan memberikan target baru untuk dicapai.

Ketika target sudah ditetapkan maka tugas orang sales adalah berjuang untuk mencapai dan bahkan melampaui target yang diberikan.

Tahun 2013 ini akan ada banyak tantangan dan kesempatan yang datang.

Agar siap menangkap kesempatan dan bisa menghadapi tantangan maka tidak ada cara lain selain anda harus mempersiapkan diri.

Kesuksesan akan datang ketika persiapan yang anda lakukan bertemu dengan kesempatan.

Masih ada waktu tersisa beberapa jam sebelum tahun 2013 datang, luangkanlah waktu selama beberapa menit untuk melakukan persiapan dengan baik.

Karena persiapan yang anda lakukan akan menentukan keberhasilan ataupun kegagalan penjualan anda di tahun 2013.

Selamat mempersiapkan diri menyongsong tahun 2013.

Dedy Budiman M.Pd adalah pakar Salesmanship dan The Champion Sales Trainer sekaligus founder KOMISI (Komunitas Sales Indonesia)

Menghadapi Kebohongan Palsu (Fake Lie) Pelanggan

Oleh Wahyu Purnomo
www.wahyu-purnomo.com
Sebagai seorang Salesman mungkin di antara kita ada yang pernah mendengar Fake Lie / Kebohongan Palsu yang di lontarkan oleh pelanggan kita. Ya…, Fake Lie disadari atau tidak selalu menjadi Momok buat salesman untuk tidak suksesnya sebuah transaksi penjualan.dan kerap kali juga menjadi alasan tidak tercapainya target penjualan.
Pada meeting-meeting sales, sering kita dengarkan para Salesman memberikan alasan alasan mengapa dirinya tidak atau sulit mencapai target penjualan. lucunya tidak jarang pula alasan-alasan yang di kemukakan oleh para salesman kita tersebut juga ternyata Fake Lie atau kebohongan palsu hehe… entah hal ini di sadari atau tidak oleh mereka tetapi tetap saja sebuah kebohongan Palsu adalah hal yang harus selalu kita hindari.
Untuk itu, marilah kita bahas dulu apa itu Kebohongan Palsu pelanggan dan bagaimana cara menghadapinnys
Kebohongan palsu merupakan alasan-alasan keberatan pelanggan yang sebetulnya bukan keberatan pelanggan sesungguhnya, tapi di sampaikan kepada kita dengan harapan penolakan bisa terjadi. sebagai contoh ketika seorang pelanggan menyatakan keberatan dengan kata kata ” Waduh saya kurang suka dengan model TV nya Mas, saya lebih suka dengan yang agak ramping” padahal sesungguhnya yang di inginkan pelanggan itu adalah yang harganya lebih murah atau bisa jadi dia tidak suka dengan Merk Tv tsb atau pernah punya pengalaman buruk thp merk tsb. atau jika kita seorang sales distribusi/retail, penolakan pelanggan bisa dengan contoh ; “Wah.. Sory Mas, stok saya masih banyak” Atau ” besok lagi aja ya ambilnya barangnya kurang jalan nih”. padahal bisa jadi dia tidak mau ambil karna harganya kalah murah dengan Toko sebelah, atau yang lebih ekstrim tapi kerap kali terjadi juga adalah karna dia tidak sreg atau tidak suka dengan si Salesman.
Mengapa Fake Lie/ Kebohongan palsu pelanggan ini bisa terjadi :
1. Pelanggan memang cenderung secara psikologis berusaha menyembunyikan keberatannya karena beberapa hal, bisa jadi malu,tidak senang /tdk percaya dengan si Penjual, masih ada hal2 yang belum yakin thp produk yang di jual , dll, tapi tetap motivasi utamannya menyembunyikan keberatannya yang sesungguhnya adalah karena secara tidak langsung ada rasa takut dari Pelanggan bahwa keberatannya akan di patahkan oleh si Salesman dan dia akan menjadi “kalah” dan “terpaksa” melakukan pembelian.
2. Pelanggan masih belum merasa ada urgensi “kebutuhan” untuk melakukan pembelian
3. Pelanggan memang tidak punya niat membeli
Bagaimana mengetahui sebuah kebohongan palsu :
Inti dari sukses menjual salah satunya adalah dengan menggali informasi dengan cara Listening & analyzing, jadi ketika anda memprospek seorang pelanggan, pastikan anda mendengar lebih banyak daripada berbicara yang tidak efektif secara berlebihan sehingga kita bisa melakukan analisa pelanggan. Adapun sebuah Fake lie atau kebohongan palsu biasanya memiliki ciri- ciri:
1. Alasan keberatan yang di kemukakan relatif sering berubah2 dan cenderung tidak konsisten.
2. Alasan keberatan yang mengada-ada, contoh ” Sayang ya Sepeda type ini tidak ada yang warna biru padahal saya sukaaa sekali warna biru” Hal ini diungkapkan pelanggan setelah kita menjelaskan bahwa warna yang tersedia hanya merah, kuning dan hijau, sudah jelas kita sampaikan terlebih dahulu bahwa warna biru tidak ada kok malah cari yg gak ada? :-)
3. Alasan yang tidak masuk akal, contoh : ” Maaf Mas, kita dengan Kontraktor jasa yang lama sudah kontrak seumur hidup” , Please deh…, mana ada kontrak seumur hidup hehehe…., kecuali mungkin kalo itu adalah sister company.
4. Melemparkan keputusan membeli kepada orang lain yang tidak ada di tempat agar bisa lari dari proses prospekting / negosiasi, contoh: “Sebentar ya nanti saya tanya istri saya dulu mau gak dia pake LCD merk X” kalo memang dia niat untuk tanya istrinya kan sebetulnya bisa langsung telp ke Handphone sang istri.
Lalu bagaimana menghadapi kebohongan palsu ini?. Intinya adalah kita sebagai seorang sales harus mampu benar-benar menggali keberatan sesungguhnya dari pelanggan dan tidak boleh terkecoh dengan Kebohongan palsu pelanggan ini. Adapun hal-hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara:
1. Gali informasi yang lebih dalam, Listening & analyzing selalu ketika sedang memprospek pelanggan/client, ketika kita menemukan indikasi kebohongan palsu ajukan pertanyaan2 lain untuk memastikan apa keberatan pelanggan yang sesungguhnya.
2. Perkuat pendekatan personal & jual diri anda, hal ini bisa di lakukan dengan memancing pembicaraan diluar “barang dagangan” kita dan cobalah bahas topik topik yang di sukai oleh pelanggan terlebih dahulu, kenali pribadinya lebih dekat dan biarkan dia megenal pribadi anda juga dengan lebih dekat agar tidak ada jarak antara salesman dan pelanggan. agar pelanggan merasa lebih nyaman dan terbuka. Hal ini kerap kali dilakukan oleh Salesman spesialisasi Industrial dan Salesman retail/ Distribusi.
3. Ketika kita mendapatkan sinyal fake Lie Jangan pernah mematahkan atau membuat malu pelanggan dengan argumen argumen kita
4. jika memang pelanggan benar benar tidak punya niat membeli ( hanya window shopping) jangan pernah tinggalkan kesan negatif kepadanya dan selalu perkenalkan diri anda dan produk anda dengan baik, karna kita tidak akan pernah tau kapan pelanggan itu akan kembali lagi dengan niat ingin benar2 serius membeli, dan pastikan pada saat itu terjadi sang pelanggan mengingat anda dan produk anda terlebih dahulu daripada yang lainnya
Selalu di ingat pula bahwa Practise always make perfect, untuk itu kita tidak boleh berhenti belajar dalam menganalisa dan menghadapi kebohongan palsu pelanggan
Selamat Mencoba!
 
Wahyu Purnomo
Inspiring, Coaching & Motivating Indonesian Salespeople
Hp. 08121058157
Pin BB :22A55733